Bahaya di Balik Rokok Elektrik

October 5, 2014

rokok elektrik

Di saat belahan dunia barat mulai meninggalkan rokok, pelaku industri lintingan tembakau mengalihkan pasarnya ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Siapa di antara Anda yang saat ini belum pernah melihat orang dari segala umur merokok di pinggir jalan? Anak merokok seperti sudah menjadi citra yang umum dijumpai di kota-kota besar, mulai dari anak yang berkeliaran di jalan ataupun yang berse-ragam putih biru. Padahal, rasanya hampir semua orang tahu bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan.

Rokok dikenal sebagai salah satu biang keladi penyebab kematian di seluruh dunia. Perokok terpapar dengan risiko berlipat ganda untuk mengalami penyakit pernapasan, kanker, hingga penyakit jantung koroner, dan stroke. Mungkin inilah yang mendorong industri kreatif untuk mendesain rokok elektrik atau dikenal juga dengan istilah Electronic Cigarettes (ECs) atau Electronic Nicotine Delivery System (ENDS), dan dianggap dapat menjadi alternatif rokok yang lebih baik. Namun benarkah rokok elektrik ‘lebih sehat’ dibanding rokok biasa? Apa beda antara rokok elektrik dan rokok biasa? Dan mengapa rokok ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan para praktisi kesehatan? Apa saja bahaya rokok elektrik bagi kesehatan?

Rokok Elektrik Masih Mengandung Nikotin

Di tengah-tengah masyarakat yang makin sadar kesehatan, rokok elektrik hadir dan menawarkan alternatif yang lebih sehat bagi para penikmat nikotin. Rokok elektrik pertama kali dikembangkan China. Bentuk dan ukurannya sangat mirip dengan rokok biasa, lengkap dengan ujung yang merah membara saat dihisap dan tidak ketinggalan asap yang keluar saat Anda menghembuskan napas. Dengan bentuknya, nikotin tetap dapat masuk ke dalam tubuh tanpa perlu membakar tembakau.

MARS, DTM&H, DTCE, baik ECs atau ENDS merupakan alat yang memiliki fungsi untuk merubah zat-zat kimia menjadi uap dan meneruskannya ke paru-paru. Banyak pihak mengatakan zat kimia tersebut merupakan campuran dari nikotin dan propylene glycol. Sebetulnya kandungan produk-produk ECs bervariasi tiap merek, sehingga jenis maupun kadar dari tiap-tiap jenis zat belum dapat diketahui dengan sebenar-benarnya.

Nikotin ini didapat dari cairan nikotin yang ditampung di dalam ‘batang’ rokok elektrik, yang dipanaskan dan menghasilkan uap yang kemudian dihisap oleh perokok. Uap ini juga yang kemudian dapat dihembuskan keluar oleh perokok. Pemanasan dihasilkan dari baterai lithium. Ini juga yang menjadi salah satu keunggulan rokok elektrik, karena Anda tidak perlu lagi pusing mencari korek yang ketinggalan atau minta api dari orang yang tidak dikenal. Rokok elektrik juga tidak menghasilkan asap, karbon monoksida, dan bau rokok yang mengganggu.

Beberapa rokok elektrik dapat diisi ulang dan dilengkapi dengan baterai yang rechargeable. Penggunanya juga mengakui bahwa merokok dengan rokok elektrik lebih hemat dibanding merokok tembakau. Karena bebas asap, orang juga merasa lebih aman untuk merokok di tempat umum, di dekat anak-anak, bahkan di tempat yang bebas rokok.

Bahaya Rokok Elektrik

Meski bebas asap dan tembakau, rokok elektrik tidak bebas nikotin. Rokok elektrik masih mengandung bahaya. Cairan yang terdapat di dalam rokok elektrik juga tidak semata nikotin saja, melainkan bercampur dengan perasa, zat pelarut, dan zat-zat tambahan lainnya.

Kadar nikotin ini juga dapat berbeda-beda dan sulit diukur. Nikotin cair ternyata lebih berbahaya daripada nikotin tembakau, tidak hanya dengan dihirup, melainkan juga jika terkena kulit. Dosis kecil saja cukup untuk membunuh satu orang dewasa bila tidak sengaja terminum. Yang menjadi masalah besar, dilaporkan bahwa kecelakaan lebih banyak menimpa anak-anak, yang tidak sengaja meminum cairan tersebut dari rokok elektrik yang dimiliki orang tuanya.

Meski yang dihembuskan keluar dari paru-paru adalah uap nikotin, tetapi ternyata asap palsu ini juga dapat berbahaya bagi orang-orang di sekitar perokok. Pasalnya, nikotin dapat ikut terhirup oleh sang perokok pasif, yang tidak jarang adalah pasangan atau anak perokok itu sendiri. Meski digadang-gadang dan dipromosikan lebih aman dari rokok biasa, rokok elektrik ternyata tetap dapat menimbulkan kerusakan pada paru. Sebuah penelitian tentang bahaya rokok elektrik membuktikan bahwa pengguna rokok elektrik tetap mengalami kerusakan fungsi paru, penurunan daya tahan paru, dan menyebabkan perubahan selular sama seperti perokok tembakau biasa.

Menarik Perokok Baru

Rokok elektrik memang sedang booming di benua biru dan merah, dan merupakan salah satu faktor ditinggalkannya rokok tembakau. Meski demikian, rokok elektrik menimbulkan perdebatan dan kontroversi di antara para praktisi kesehatan. Pasalnya, orang-orang yang sebelumnya tidak merokok malah kini menjadi ikut merokok karena menganggap rokok elektrik lebih aman dan sehat dibanding rokok tembakau. Rokok elektrik menjadi gerbang kecanduan nikotin yang baru, baik pada non perokok maupun anak-anak. Penurunan popularitas rokok kini menanjak naik kembali dengan adanya rokok elektrik.

Nikotin dapat mengganggu perkembangan otak pada anak-anak maupun remaja. Dengan adanya rokok elektrik, anak dan remaja dapat terbawa arus untuk mengikuti trend. Apalagi, beberapa rokok elektrik memiliki bau seperti buah-buahan atau permen karet sehingga menarik anak-anak untuk mencobanya. Jika anak menggunakan rokok elektrik di luar rumah, Anda mungkin tidak akan waspada karena rokok elektrik tidak meninggalkan bau rokok di mulut ataupun pakaiannya.

Dengan adanya rokok elektrik yang masih tetap mengandung nikotin, maka upaya untuk benar-benar menghentikan kebiasaan merokok tidak akan pernah tercapai. Padahal, satu-satunya cara terbaik adalah untuk tidak merokok sama sekali.

Selain nikotin, kandungan berbahaya lain yang terkandung dalam rokok elektrik antara lain sebagai berikut, seperti diungkap oleh FDA dan German Cancer Research Center sebagai berikut:

  • Propylene glycol, zat penyebab iritasi jika dihirup.
  • Diethylene glycol, zat kimia yg pernah digunakan untuk meracuni (hasil tes oleh FDA).
  • Zat pemberi rasa, zat yang mengandung racun bagi sel tubuh dengan kadar bervariasi.
  • Nitrosamin (penyebab kanker).
  • Logam beracun, seperti nikel, kadmium dan timbal.
  • Carbonyl: acrolein, acetal-dehyde dan formaldehyde (zat yang dapat menyebabkan kanker).
  • Komponen lain, seperti toluene dan ‘m, p-xylene’ yang gampang menguap dan rusak di suhu ruangan (bersifat racun).

Selain zat diatas, pada dasarnya kandungan utama yang terdapat dalam rokok elektrik ini adalah propilen glikol, dieter glikol dan gliserin. Jika zat-zat ini dipanaskan maka akan bereaksi menghasilkan nitrosamine, yaitu suatu senyawa yang dapat memicu penyakit kanker.

Pernah juga dilakukan penelitian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) pada tahun 2009 terhadap bahaya rokok elektrik dari dua buah perusahaan. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat kandungan dietilen glikol dan nitrosamin yang terkandung dalam tembakau pada produk tersebut .

Rokok Elektrik Bukan Alternatif Aman

Sebagian dokter berpendapat bahwa rokok elektrik sebenarnya dapat menguntungkan bagi perokok berat yang sulit berhenti merokok atau tidak punya keinginan untuk berhenti. Rokok elektrik mungkin alternatif yang lebih aman, meskipun efek jangka panjangnya masih belum banyak diketahui.

Namun, jika Anda punya keinginan untuk berhenti merokok, menggunakan rokok elektrik bukanlah cara yang baik. Ada cara-cara lain yang lebih efektif dan dapat dilakukan. Di antaranya dengan menggunakan koyo atau permen karet nikotin yang mengandung kadar nikotin jauh lebih rendah. Cara-cara ini juga sudah teruji efektif untuk membantu perokok menghentikan kebiasaan buruknya. Jika Anda tidak merokok, jangan mulai menggunakan rokok elektrik. Rokok elektrik tidak memiliki manfaat bagi kesehatan, bahkan menimbulkan risiko timbulnya penyakit.

Di seluruh dunia, tidak ada satupun negara yang menyetujui penggunaan rokok elektrik. Bahkan di beberapa negara seperti Brazil, China dan Australia rokok elektrik dilarang.

Semoga artikel bahaya rokok elektrik ini bermanfaat dan semakin membuka wawasan anda.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: