Bagaimana Menghadapi Gigi Busuk

July 21, 2014

gigi busuk

Bagi para ilmuwan, mulut seringkali dianggap sebagai “kebun binatangnya” tubuh manusia. Di dalam mulut terdapat ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta kuman yang bercokol dengan nyaman. Tidak heran, jika gigi Anda yang bolong lama kelamaan jadi mati akibat digerogoti kuman. Wah, kebetulan. Kalau sudah mati, gigi yang bolong kan jadi tidak terasa sakit lagi. Jangan salah, gigi busuk seperti ini ternyata malah dapat menimbulkan masalah serius di kemudian hari.

Akibat Lubang dan Trauma

Gigi mati atau gigi busuk dalam dunia kedokteran sering disebut dengan gigi non vital. Kondisi ini terjadi jika jaringan saraf yang terdapat di dalam gigi mati. Gigi yang normal mengandung saraf di bagian dalam, yang akan memberitahukan panas dinginnya makanan dan minuman yang masuk ke mulut. Jika jaringan saraf ini mati dan menghilang, bagian dalam gigi akan menjadi kosong.

Menurut Prof. Dr. drg. Hj. Melanie S Djamil, Mbiomed, ada beberapa kemungkinan yang dapat menyebabkan saraf gigi menjadi mati. Pertama, akibat benturan sehingga pembuluh darah gigi menjadi rusak sehingga saraf kekurangan suplai darah dan mulai mati perlahan-lahan. Misalnya pada anak kecil yang jatuh dari sepeda, petinju yang menerima pukulan keras di wajah, atau aktivitas olahraga lainnya.

Kemungkinan kedua adalah akibat lubang pada gigi. Lubang pada gigi akan menyebabkan kuman dapat masuk ke bagian dalam gigi dan menyebabkan iritasi pada saraf yang sebelumnya terlindungi. Jika dibiarkan tanpa diobati, kuman lama kelamaan akan menyebabkan infeksi pada saraf dan akhirnya menimbulkan kematian.

Selain kedua penyebab di atas, saraf gigi juga dapat rusak akibat penggunaan gigi secara kasar, misalnya pada orang yang giginya sering bergemerutuk saat tidur. Beban yang terjadi akan menyebabkan penekanan pada pembuluh darah dan mengurangi suplai darah pada saraf. Bayangkan jika hal ini terjadi setiap malam, saraf lama kelamaan akan mati.

Begitu proses kematian saraf dimulai, tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menghentikan atau mengembalikannya. Proses kematian saraf dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat, disebut pulpitis. Namun, ada juga yang mati diam-diam tanpa menimbulkan gejala.

Bom Waktu di Dalam Tubuh

Ah, dibiarkan juga tidak apa-apa kok. Malah bagus karena gigi tidak bisa sakit lagi. Eit, jangan salah.

Saraf yang mati adalah hidangan nikmat untuk kuman-kuman berpesta. “Kuman akan berkembang biak tanpa kendali di dalam rongga gigi dan pada akhirnya terjadi infeksi yang bukan hanya pada gigi, melainkan dapat bocor ke tulang di sekitarnya dan menyebabkan bisul pada gigi,” jelasnya.

Lalu, bukankah bentuk gigi juga tidak berubah? Buat apa dicabut? Gigi yang mati awalnya memang tidak tampak berbeda dengan gigi yang sehat. Namun seiring waktu, warna gigi akan terlihat semakin gelap. Perubahan warna gigi ini terjadi karena pembuluh darah di dalam saraf pecah dan sel darah merah di dalamnya menjadi bocor. Perubahan warna ini tentu akan merusak penampilan Anda, apalagi ia bersifat permanen dan gigi tidak akan kembali putih seperti sedia kala dengan sendirinya.

Ah, sudah bertahun-tahun gigi saya mati, tapi tidak terjadi apa-apa tuh. Waktu terjadinya infeksi pada gigi dan pembentukan bisul di akar gigi dapat bervariasi. Ada yang mengalami infeksi hanya beberapa hari setelah benturan, tetapi ada juga yang memakan waktu bertahun-tahun. Kematian gigi ini juga tidak selalu disertai nyeri sehingga tidak disadari penderitanya. “Karena itu, sangat penting untuk memeriksakan gigi setelah mengalami benturan, di samping pemeriksaan rutin enam bulan sekali,” tambahnya.

Gigi Busuk: Cabut atau Tidak?

Jika Anda punya gigi yang mati, hanya ada dua pilihan yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah dicabut, dan yang kedua adalah melakukan perawatan akar gigi.

Pencabutan gigi umumnya hanya dianjurkan oleh dokter gigi jika tidak ada pilihan lain. Perawatan saluran akar lebih dianjurkan karena memiliki beberapa keuntungan. Perawatan saluran akar yang dilakukan sejak dini tidak hanya akan mencegah terjadinya infeksi, tetapi juga menjaga agar warna gigi tidak banyak berubah. Selain itu, gigi dapat tetap dipertahankan sehingga tidak mengganggu saat makan, berbicara, dan tentu lebih enak dipandang.

Jika warna gigi sudah berubah, dokter mungkin menganjurkan untuk melakukan pemutihan gigi. Meski demikian, perlu diingat bahwa warna gigi yang dihasilkan mungkin tidak persis sama dengan warna gigi yang asli atau gigi di sekitarnya. Cara lainnya adalah dengan memasang “crown” atau veneer di atas gigi untuk menyembunyikan bagian gigi yang hitam.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: