Bagaimana Mengalahkan Racun

October 15, 2013

racun

Benda-benda di sekeliling kita ternyata bisa menjadi sumber racun yang mematikan. Bahkan, dari santapan yang terhidang di meja makan bisa berbalik menjadi racun. Saatnya lebih waspada.

Konon, racun ada di mana-mana. Saat racun masuk dalam jumlah sedikit, tubuh kita masih mampu untuk menyingkirkannya. Namun jika racun bersifat kuat atau masuk dalam jumlah banyak, maka tubuh dapat mengalami keracunan.

Racun adalah semua bahan yang dapat menimbulkan cedera atau kematian melalui reaksi kimia. Racun sendiri dapat masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara. Ada yang melalui pernapasan, melalui kulit, suntikan, radiasi, atau gigitan serangga dan ular. Sedangkan keracunan adalah kondisi di mana seseorang terpapar oleh racun. Keracunan merupakan masalah kesehatan yang umum dijumpai, dan dapat terjadi secara sengaja (percobaan bunuh diri) maupun tidak, kebanyakan kasus keracunan terjadi di rumah, dan risiko paling tinggi terdapat pada anak berusia kurang dari 5 tahun.

Keracunan juga dapat terjadi akibat akumulasi zat berbahaya yang tanpa disadari menumpuk selama bertahun-tahun di dalam tubuh. Merasa tidak pernah mengonsumsi makanan yang mengandung racun? Masalahnya, banyak produk rumah tangga dan kecantikan yang mengandung racun dalam jumlah kecil. Misalnya racun yang berasal dari logam berat, seperti merkuri, cadmium,dan timbal.

Gejala Terkena Racun

Bergantung pada jenis dan jumlah racun, gejala yang timbul juga dapat berbeda-beda. Umumnya orang yang keracunan menunjukkan tanda seperti berikut:

  • Mual-muntah
  • Nyeri perut, kejang
  • Demam tinggi
  • Mengantuk, serta tidak sadarkan diri atau malah gelisah dan marah-marah.
  • Pada pemeriksaan, dapat terjadi pelebaran atau pengecilan pupil, perubahan detak jantung, frekuensi pernapasan, dan konfusi.

Gejala dapat tidak langsung timbul, dan baru terlihat dalam beberapa hari. Selain itu, gejala bisa juga menyerupai penyakit lain. Keracunan yang dilakukan secara sengaja sebagai usaha percobaan bunuh diri, dapat menimbulkan luka bakar atau kemerahan di sekitar mulut dan bibir, bau napas seperti bahan kimia (bensin, minyak tanah atau pembasmi serangga), bekas terbakar, noda dan bau pada pakaian, lantai, dan benda-benda di sekitar, atau botol obat yang kosong dan tablet berserakan.

Keracunan dapat bersifat ringan hingga membahayakan jiwa. Racun yang masuk dapat menyebabkan kerusakan organ, seperti ginjal, hati, saluran pernapasan (pada racun yang dihirup), dan saluran pencernaan (luka bakar pada mulut, kerongkongan, hingga lambung). Kerusakan yang berat dapat bersifat permanen dan tidak dapat sembuh. Akibatnya, kualitas hidup dapat sangat terganggu. Keracunan yang disertai mual muntah dan diare, dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi. Penderita keracunan dengan kejang atau perubahan pupil mungkin menunjukkan adanya gangguan di otak. Tekanan darah yang terlalu rendah maupun tinggi juga dapat berbahaya. Sedangkan kerusakan pada paru dapat menyebabkan gangguan napas dan penurunan kadar oksigen darah. Semua gangguan ini,jika berat memiliki potensi mematikan.

Segera Cari Pertolongan

Jika menemui orang sakit yang keracunan atau diduga mengalami keracunan, hendaknya segera cari pertolongan ke rumah sakit atau dokter terdekat. Terutama anak-anak, meskipun tidak tampak sakit. Sementara menunggu perawatan medis, orang di sekitar dapat melakukan pertolongan pertama.

  1. Jika keracunan disebabkan gas beracun seperti karbon monoksida, bawa penderita ke tempat terbuka dengan udara segar.
  2. Jika ditelan, bersihkan dan keluarkan sisanya dari dalam mulut. Jangan berusaha membuat penderita muntah karena dapat memperparah kerusakan.
  3. Jika racun berasal dari produk pembersih dan lainnya, coba lihat label pada kemasan dan ikuti instruksi bila terjadi keracunan secara tidak sengaja.
  4. Jika racun mengenai pakaian, tanggalkan pakaian tersebut. Kulit dan mata yang terkena racun, dialiri dengan air dingin atau suam-suam kuku selama 20 menit atau sampai pertolongan tiba.
  5. Pastikan penderita masih bernapas. Jika tidak, segera mulai resusitasi dan pernapasan buatan.
  6. Bawalah kemasan yang diduga menjadi racun ke rumah sakit untuk dilihat oleh dokter.
  7. Bersihkan sisa muntahan dan jaga kepala agar selalu menunduk agar tidak terhirup atau tertelan.
  8. Jangan berikan makanan atau minuman apapun, apalagi jika dalam keadaan tidak sadar.

Penanganan Keracunan Oleh Tenaga Medis

Keracunan makanan merupakan kondisi kegawatan yang harus mendapat penanganan segera. Jika ada pasien datang dengan kondisi lemah akibat keracunan makanan, apa yang harus Anda lakukan sebagai seorang tenaga medis? Berikut tipsnya:

  • Berikan cairan sebanyak-banyaknya melalui oral/mulut. Jika pasien muntah-muntah hebat atau selalu muntah jika diberi cairan, segera pasang IV line. Berikan larutan garam fisiologis (NaCI 0,9%), drip cepat. Usahakan 1 kolf habis dalam 2 jam.
  • Anti-muntah dan anti-diare dapat diberikan untuk mengurangi rasa mual, frekuensi muntah dan diare.
  • Antibiotik kadang dibutuhkan dalam kasus keracunan makanan karena dugaan adanya kontaminasi bakteri (misalnya Shigella Sp.). Namun, seringkah antibiotik justru memperburuk kondisi pasien yakni memicu terjadinya diare. Oleh karenanya, penggunaan antibiotik harus dipikirkan sacara hati-hati.
  • Berikan karbon aktif atau arang aktif (norit) yang berfungsi menyerap racun. Berikan 3-4 tablet setiap 4 jam.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Hati-hati penggunaan norit. Tablet berwarna hitam ini punya sifat arang aktif yang mampu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, termasuk racun. Semakin banyak yang dimakan, semakin banyak racun yang diserap. Namun norit juga menyerap zat gizi dan vitamin yang terdapat pada makanan. Apalagi bahan norit yang relatif aman boleh dikonsumsi sampai 20 tablet sekaligus. Oleh karena itu, penderita juga harus terus diberikan minum air putih untuk menggantikan zat yang ikut terserap norit.
  • Tidak semua korban keracunan bisa diberikan susu atau norit. Korban keracunan zat korosif seperti bensin dan minyak tanah pantang mengkonsumsi susu dan norit karena dapat memperparah. Ada baiknya penderita segera dibawa ke rumah sakit.
  • Jika penderita keracunan adalah anak-anak, rangsangan muntah tidak dianjurkan karena dapat membuat mereka tersedak dan malah berakibat fatal.

Bisa Dari Produk di Sekitar Kita

Kasus keracunan umumnya disebabkan karena penderitanya meminum zat berbahaya. Namun keracunan juga mungkin didapat melalui jalur lain. Misalnya:

  • Menghirup zat berbahaya seperti karbon monoksida.
  • Menyuntikkan obat, seperti heroin.
  • Racun dari pestisida, mengenai kulit atau mata.
  • Racun dari gigitan serangga atau hewan seperti ular.
  • Overdosis obat atau obat terlarang.

Racun dapat berasal dari produk yang kita gunakan sehari-hari. Apalagi pada anak-anak yang belum mengerti, dapat tidak sengaja menelan produk pembersih, tanaman, pembasmi serangga, obat-obatan atau kosmetik ibunya. Menurut Dr. Gaga Irawan Nugraha SpGK, M.Gizi, keracunan juga dapat terjadi akibat makanan yang beracun, dimasak kurang tepat, terkontaminasi bakteri atau berjamur. Ada juga yang teracuni air yang tercemar limbah industri.

Berikut beberapa contoh racun yang terdapat di sekitar kita:

Karbon monoksida

Merupakan gas beracun yang tidak berbau, yang dihasilkan melalui proses pembakaran yang tidak sempurna, seperti bensin, kayu atau gas. Bahan bakar ini dapat kita temui di pemanas air dan kompor. Jika tidak dirawat dan diperbaiki secara rutin, karbon monoksida dapat bocor tanpa diketahui, dan menyebabkan kehilangan kesadaran dan kematian.

Merkuri

Merkuri atau air raksa dapat kita temukan dalam termometer air raksa, baterai, lampu berfluoresensi, tambalan gigi dan alat pemeriksa tekanan darah. Merkuri tidak boleh bersentuhan langsung dengan kulit karena dapat terserap dan menimbulkan keracunan. Meski demikian, ikan yang berasal dari laut tercemar juga dapat masuk tanpa kita ketahui. Untuk wanita, berhati-hati menggunakan produk kosmetik yang dapat memutihkan kulit dengan cepat, karena mungkin mengandung merkuri.

Merkuri dalam dosis tinggi dapat menimbulkan kerusakan pada otak, jantung, ginjal, dan kekebalan tubuh. “Riset menunjukkan bahwa konsumsi ikan pada orang kebanyakan tidak menimbulkan masalah kesehatan. Namun, adanya merkuri pada darah janin dan anak kecil dapat mengganggu perkembangan saraf, menyebabkan penurunan kemampuan berpikir dan belajar, bahkan menimbulkan kecacatan,” jelasnya.

Cadmium

Cadmium dapat dijumpai pada leburan logam, komponen solder, baterai nikel-cadmium, rokok, cat warna, serta di udara dan air di daerah industri. Sayuran yang ditanam di daerah industri yang tercemar juga dapat mengandung cadmium.

Paparan akut terhadap cadmium dapat menimbulkan gejala menyerupai flu, seperti demam, menggigil, dan nyeri otot. Paparan berat dapat menyebabkan penumonia, bronkitis, dan udem paru. Cadmium yang tertelan dapat mencetuskan kerusakan ginjal dan hati. Sedangkan paparan dalam jangka panjang dapat menyebabkan hilangnya penciuman, batuk, napas sesak, penurunan berat badan, kerusakan ginjal dan hati, gigi kuning, sampai kanker.

Timbal

Timbal dahulu digunakan di dalam bensin dan cat dinding. Saat ini, ia masih dapat ditemukan dalam bentuk debu, mainan anak-anak, peluru, pemberat pancing, pipa, keran, tanah, solder, perhiasan, baterai, hingga peralatan makan.

Timbal terutama berbahaya bagi anak. Anak dapat memasukkan mainan dan benda asing ke dalam mulut makan bisa tidak sengaja termakan. Akibatnya dapat terjadi gangguan perkembangan otak dan mental yang tidak dapat sembuh. “Timbal dalam dosis tinggi dapat merusak ginjal dan persarafan, kejang, tidak sadarkan diri, sampai kematian,” tambahnya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: