Badan Besar Tapi Kurang Gizi

November 2, 2013

kurang gizi

Ada julukan baru bagi kesehatan orang modern, yakni “hidden hunger”, bentuk “kelaparan” jenis baru. Bukan sejatinya kelaparan, melainkan kelaparan akibat keliru menghidangkan menu harian. Kekeliruan dalam hal memilih bahan baku menu harian, cara olah, dan penyajiannya. Itu maka menurut laporan Kementerian Pertanian Amerika Serikat, sejak dua dasawarsa lalu, sebagian orang AS yang kelihatannya gemuk dan makmur itu, ternyata masih kekurangan (sebagian zat gizi) dalam tubuhnya.

Tak terkecuali kita. Kita menyadari kalau kebanyakan warga yang di perkotaan maupun di pedesaan, konsumsi menu hariannya dijajah oleh menu kebarat-baratan. Ambil contoh pizza, burger, hotdog, ayam goreng, atau donat. Dunia medis mencatat kalau menu sejenis itu, bagian dari junk food dan fast food tidak mungkin mencukupi lagi seluruh kebutuhan tubuh akan zat gizi.

Pengakuan Departemen Pertanian AS, bahwa sebagian tubuh orang AS kekurangan kalsium, vitamin A, dan vitamin C, bukan hal mustahil. Itu maka tawaran suplemen banyak datang dari negara industri yang sudah menyadari kekurangannya itu. Sebagian dari kita juga yang menjadi korbannya hanya karena ikut mengekor menu orang di negara industri.

Tiga sumber masalah

Petaka bagi kesehatan orang modern bersumber dari tiga masalah besar. Pertama, kondisi lapisan tanah atas (topsoil) bumi kita sudah kritis. Artinya tidak lagi memadai memberi kecukupan zat hara bagi tanaman baik sayur mayur maupun buah-buahan, termasuk rerumputan dan dedaunan yang menjadi makanan hewan. Oleh karena itu, sayur mayur, buah-buahan, maupun hewan yang orang modern konsumsi kini sudah tidak lengkap dan memadai lagi kandungan zat gizinya. Bayam yang kita konsumsi sekarang, misalnya, bukan lagi bayam sekomplet beberapa dasawarsa lalu kandungan zat gizinya akibat zat hara yang diperoleh dari lapisan atas tanah bumi sudah tidak lagi lengkap.

Kedua, cara olah menu makanan orang modern cenderung berlebihan dalam suhu panas, maupun zat tambahan aditifnya. Dengan cara olah seperti itu, zat gizi yang terkandung dalam bahan baku sayur mayur, sereal, daging, yang sudah berkurang kandungan zat gizinya sedari awal, semakin berkurang akibat kehilangan selama proses pengolahan, penyimpanan, dan pengawetan. Maka makin miskin saja kandungan zat gizi menu harian rata-rata kita setelah menjadi menu harian.

Kondisi lingkungan dan kultur orang modern sudah semakin kuyup oleh beraneka ragamnya polusi yang dihadapi. Bukan saja yang bersifat kimiawi, melainkan juga yang bersifat fisik, seperti gelombang elektromagnetik. Itu semua yang kini menambah berat beban pikulan tubuh manusia ketika berhadapan dengan radikal bebas (free radicals) sebagai bagian dari meruaknya polutan di bumi.

Itu sebab mengapa kecukupan zat gizi RDA (recommended daily allowances) sebagaimana disepakati sebagai kecukupan minimal tubuh akan zat gizi, agaknya perlu dievaluasi ulang. Tak cukup lagi RDA vitamin C hanya 100 mg/hari saja sebagaimana tercantum dalam buku teks. Kita tahu tubuh memikul beban melawan polusi, stres fisik, akibat merokok dan asapnya, menjadikan tubuh memerlukan kecukupan vitamin C yang bertambah besar. Maka, RDA lama mestinya tak memadai lagi.

Apabila kecukupan zat gizi itu tidak ditambah, maka sejumlah penyakit akibat membanjirnya radikal bebas dalam tubuh, akan terus bermunculan. Termasuk apabila kekurangan kalsium, vitamin A, serta mineral lain, termasuk trace elements.

Sekadar kekurangan trace elements, selenium, saja pun bisa merongrong kerja jantung. Begitu juga bila kekurangan vitamin A atau vitamin D yang dulunya kaya sekali dalam menu harian kita, kini sudah menjadi makin kritis saja. Kita tahu peran vitamin D menjadi penting melihat banyak hal diperankannya dalam kondisi orang modern sekarang ini.

“Hidden hunger”

WHO menjuluki kekurangan gizi orang modern sebagaimana terungkap di atas sebagai “hidden hunger”. Ini jenis kelaparan yang tak kelihatan, seolah-olah orang tampak sehat normal saja. Padahal, bila dilakukan pemeriksaan darah, dan hair analysis (cara pemeriksaan mineral dalam tubuh dari sejumput rambut), banyak terungkap kekurangan zat gizinya.

Seorang kakek 75 tahun mengeluh kesemutan, keram, dan nyeri di betis hampir setiap malam. Konon mengaku sudah berobat, namun belum juga keluhannya berkurang.

Banyak orang Indonesia mengeluh seperti itu. Penyebabnya umumnya sebab kekurangan vitamin B1 (thiamine). Mengapa terjadi begitu lazimnya?

Oleh karena kebanyakan kita mengonsumsi beras giling yang sudah dibuang (disosoh) kulit arinya sebagai sumber utama vitamin B group. Bertahun-tahun kekurangan pasokan vitamin ini, tubuh akan menjerit kekurangan. Salah satu keluhan awalnya, gangguan saraf dan otot, sebelum memasuki penyakit beri-beri yang selain mengganggu saraf, juga jantung hingga ke otak. Zaman Jepang dulu, yang kelaparan karena tidak makan nasi, kena HO (hongger oedem) dengan gejala serupa.

Masyarakat kita memang terancam kekurangan vitamin B yang tubuh tidak dapat menbuatnya sendiri. Vitamin ini harus datang dari menu harian. Selain dari beras, juga kacang-kacangan, dan daging juga. Keluhan si kakek di atas mereda setelah dianjurkan minum vitamin B1 yang harganya hanya beberapa ratus rupiah setabletnya dengan dosis agak tinggi.

Bukan hanya itu. Tubuh orang modern terancam kekurangan sejumlah mineral. Yang tak suka mengonsumsi buah-buahan, kemungkinan kekurangan kalium (potasium) dalam tubuhnya. Kita tahu mineral ini penting buat kerja jantung. Gangguan jantung bisa terjadi kendati tidak ada penyakit jantung bila kekurangan kalium.

Kita mengenal lebih 20 jenis mineral makro, selain mineral mikro. Jenis mineral mikro kita sebut trace elements. Sebagian dari mineral ini bersifat esensial, yakni tidak boleh tidak harus ada dalam menu harian. Bila menu hariannya miskin gizi dan banyak kurangnya, maka bertahun-tahun kekurangan salah satu atau lebih akan mineral-mineral tersebut, maka tubuh akan banyak keluhannya. Pada tingkat berat, muncul penyakit kurang gizinya.

Kembali ke menu alami

Untuk mencegah, dan sekaligus mengobati kekurangan gizi orang modern yang mengidap “hidden hunger” ini kita membutuhkan perubahan menu harian untuk mencegahnya. Sedang yang sudah telanjur sakit kurang gizi perlu terapi. Itu sebab, zat gizi selain sebagai pencegah, sekaligus berperan juga sebagai terapi. Untuk terapi, dibutuhkan dosis lebih tinggi dibanding dosis pemeliharaan.

Anak yang kekurangan vitamin A dan sudah mengancam kebutaan, perlu dosis mega vitamin A. Demikian pula jika sudah kekurangan vitamin dan penyakitnya sudah mengejawantah. Dosis mega diperlukan.

Namun, bagi mereka yang belum sampai mengeluh kekurangan gizi, perlu mempertahankan menu hariannya yang menyehatkannya itu. Sedang yang sudah mengeluh kurang gizi, tak cukup tambahan suplemen multivitamin belaka, melainkan perlu juga mengubah menu hariannya yang serba alami. Karena hanya pilihan itu yang sanggup mencukupi seluruh kebutuhan zat gizi tubuh, dengan catatan bahan bakunya alami organik, dan paparan polusi yang meningkatkan radikal bebas ke dalam tubuh diupayakan minimal saja.

Maka, selain menu lebih alami ketimbang olahan, lindungi tubuh dari paparan radikal bebas seberapa bisa. Termasuk kendurkan stres, karena stres juga meningkatkan radikal bebas tubuh. Kebanjiran radikal bebas juga satu faktor lain dari rentannya jantung terserang penyakit, selain berisiko stroke, dan menambah risiko terkena kanker. Maka, seimbangkanlah dalam makan, bergerak badan, dan mengelola stresor, agar lapang dan sehat hidup ini.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: