Apa Salahnya Makanan Siap Saji?

November 27, 2013

makanan siap saji

Sudah lama orang diingatkan kembali bahaya makanan siap saji. Orang sekarang makin sadar apa saja yang diakibatkan kebiasaan mengonsumsi makanan siap saji. Namun, yang sudah menginsyafinya, belum tentu juga mau mengubah kebiasaan makan enaknya. Memahami saja ternyata belum cukup kalau tidak mau melakukan untuk menghindar dari yang tidak menyehatkan itu. Apa salahnya makanan siap saji sesungguhnya?

Orang sekarang makin berpikir bagaimana mengubah gaya makan dari yang keliru karena tidak menyehatkan menjadi gaya makan yang lebih menyehatkan. Gerakan kembali ke alam sama umurnya dengan gerakan kembali ke menu nenek moyang.

Bahwa menu menyehatkan itu menu yang lebih banyak sayur mayur dan buah ketimbang menu olahan. Menu olahan sendiri ada yang sangat tidak menyehatkan, yakni menu Barat dan kebarat-baratan yang dijuluki menu ampas (junk food). Kekeliruan memilih menu sekian lamanya sudah dibuktikan sendiri oleh dunia Barat dengan semakin diproduksinya aneka suplemen. Sadar bahwa yang diperoleh dari menu harian yang keliru itu, tubuh sudah kehilangan sekian banyak zat gizi.

Makmur tapi “kurang gizi”

Penyakit dan gangguan fungsi organ tubuh orang sekarang banyak, kalau bukan terbanyak, disebabkan oleh salah memilih menu harian. Selain sudah kelebihan porsi (kalori) sekaligus juga kehilangan zat gizi akibat menu kelewat diolah (refine diet). Itu makanya, penyakit orang sekarang menimbulkan kasus kelebihan kalori yang berujung kelebihan berat badan, sekaligus kekurangan sejumlah zat gizi akibat menu harian kehilangan sebagian besar zat gizi yang dikandungnya akibat salah tanam, salah panen, salah simpan, dan salah olah.

Jangan heran kalau orang-orang Amerika yang kelihatan gemuk dan makmur ternyata banyak kehilangan zat gizi dari menu hariannya, sehingga tak sedikit yang misalnya, kekurangan kalsium, zat besi, vitamin A, dan sejumlah mineral serta trace elements. Kelihatannya saja sehat, tapi kalau diperiksa darahnya ada saja yang kurang zat gizi di tubuhnya.

Seperti itu juga nasib orang yang meniru menu orang Barat. Tentu bukan proses satu dua hari, melainkan bila kehilangan zat gizi itu berlangsung terus menerus selama kebiasaan memilih menu keliru itu masih terus berlangsung. Termasuk bila memilih makanan siap saji.

Makanya, lebih banyak penyakit orang zaman sekarang yang baru tuntas terselesaikan bila orang mau mengubah gaya makannya. Artinya pilihan menu, takaran porsi, serta bagaimana memihak pada filosofi makan dengan kepala, bukan dengan hati.

Sebaliknya, orang yang hidupnya pas-pasan, selain kekurangan porsi makan, sekaligus juga kekurangan gizi karena menu hariannya tidak komplet. Makan seketemunya, nasi dengan kerupuk, atau sambal belaka, mana mungkin bisa mencukupi semua kebutuhan zat gizi tubuh yang 45 macam itu.

Baru apabila menu harian bisa terhidang sedikitnya 4 sampai 5 jenis menu, kecukupan tubuh akan seluruh zat gizi yang tubuh butuhkan, dapat terpenuhi semuanya. Masih banyak orang yang hidupnya kecukupan untuk bisa menyediakan 4-5 macam menu setiap kali santap, namun tetap cenderung makan dengan hanya satu menu (monodiet). Itu maka, mereka juga sama-sama bernasib kekurangan gizi juga kalau itu dibiarkan berlangsung bertahun-tahun.

Kelirunya gaya makan, juga selain bila yang dikonsumsi bukan tergolong menu seimbang, artinya ada porsi zat gizi yang dikonsumsi secara berlebih, khususnya lemak dan gajih melebihi zat pati, sehingga selain menambah tambun, pembuluh darah tubuh ditumbuhi “karat” lemak yang lama-lama akan menyumbatnya. Stroke dan jantung koroner bermula dari sini.

Tak perlu belajar ilmu gizi untuk bisa bijak dalam menghadapi menu harian. Prinsip alaminya, semakin lezat suatu menu, umumnya makin tidak menyehatkan. Sebaliknya makin kurang begitu lezat suatu menu, umumnya makin menyehatkan. Ubi jalar tidak selezat kue lapis. Namun, ubi kayu jauh lebih menyehatkan daripada kue lapis.

Maka, kalau mau sehat, pilihlah yang kurang begitu lezat lebih banyak daripada menu yang lezat-lezat. Bahwa sesekali mengonsumsi menu lezat tentu tidak terlarang. Namun, pilihan menu lezatnya sebaiknya bukan menu olahan (kue, gula pasir, roti putih, sosis, kornet), melainkan menu alami, seperti minyak goreng sawit gajih, dan daging merah baru disembelih. Mengapa? Karena tubuh juga membutuhkan itu.

“Prudent diet”

Ya, dunia kini berkiprah pada jenis menu prudent. Bagaimana bijak hanya memilih menu alami yang lebih menyehatkan. Kalau ada menu alami, seperti ubi kayu, kentang, padi-padian, kacang-kacangan, mengapa memilih cake, martabak, burger, sosis, dan pizza.

Sejak di bangku awal sekolah anak di negara industri sudah dididik untuk bijak memilih menu hariannya. Dibentuk kebiasaan memilih menu dengan kepala, dan bukan dengan hati. Kritis pula terhadap jenis menu yang tidak menyehatkan, dan tahu cara menghindarnya.

Bahwa sejatinya menu yang paling menyehatkan itu datang dari nenek moyang kita. Tidak ada menu yang lebih beraneka ragam ramuan alaminya daripada menu rendang, atau lodeh, atau gulai. Rempah dalam menu harian kita sangat kaya. Rempah sendiri mengandung aneka zat berkhasiat yang meningkatkan kesehatan, karena berisikan mineral dan vitamin selain zat berkhasiat lain. Tidak demikian jika memilih steak.

Kelebihan kalori dan bukan menu seimbang

Jadi, kalau yang kita pilih bukan menu bijak sebagaimana dikehendaki dunia medik, yakni menu seimbang, maka tubuh yang akan terus menjadi korban. Mati prematur kebanyakan orang sekarang sebetulnya masih bisa dicegah kalau sejak awal sudah menginsafi bahwa menu hariannya harus berubah. Makan soto tidak dilarang. Tapi makan soto setiap hari itu yang perlu dikoreksi.

Penyakit kanker orang sekarang sebagian besar faktor menu harian musababnya. Kelebihan menu daging, dan kekurangan menu berserat (fiber) salah satu penyebabnya. Orang banyak bertanya kenapa orang sekarang makin banyak yang kena kanker, antara lain inilah jawabannya. Khususnya kanker usus besar terkait dengan kelebihan daging yang kita konsumsi. Bahwa daging juga dibutuhkan tubuh, tapi bukan berarti harus saban hari mengonsumsinya.

Kalori Makanan Siap Saji

  • Hamburger 270 kkal
  • Cheese burger 320 kkal
  • Hot Dog 330 kkal
  • Burger Ikan 380 kkal
  • Sosis curry 520 kkal
  • 6 buah Chicken wing 550 kkal
  • 1/2 ekor Ayam goreng 650 kkal
  • Kebab 650 kkal
  • Pizza 750-1.000 kkal

Catatan:
Kebutuhan kalori pekerjaan kantoran sekitar 2.200 kkal /hari saja. Sebagian diperoleh dari karbohidrat. Seporsi pizza sudah mengisi separuh kecukupan kalori per hari.

Selain tidak boleh keliru memilih menu, terlebih makanan siap saji yang harus segera ditinggalkan, dan kebiasaan bermenu bijak harus ditanamkan sejak dini. Karena pasti tidak mudah mengubah kebiasaan makan enak sejak kecil jika lidah tidak dilatih mendapat menu kurang lezat.

Kalau dari kecil lidah anak terbiasa diberi menu lezat, sukar mengubahnya untuk menerima menu kurang lezat. Lidah gurih akibat dibentuk oleh selera ayam goreng, itulah yang membangun generasi sekarang sebagai “generasi ayam goreng”. Lidah anak sekarang tak mengenal sayur asem atau sayur lodeh, dan tidak menyukainya, melainkan telanjur cenderung memihak pada menu serba digoreng.

Semua menu serba digoreng punya dua kelemahan. Pertama kelebihan kalori yang dikandungnya, dan sifat jahat minyak goreng sendiri. Minyak goreng bersifat lemak jenuh yang tidak menyehatkan.

Kedua, kalau minyak gorengnya sudah jadi jelantah, maka sekaligus juga berisiko menimbulkan kanker. Generasi “ayam goreng” selain anak jadi rentan gemuk sekaligus juga memikul nasib bakal terkena kanker kelak setelah dewasa akibat jelantah restoran dan makanan siap saji.

Kelebihan lemak dalam menu sendiri juga faktor risiko bikin kanker. Kegemukan berkorelasi dengan munculnya kanker payudara, selain bila untuk waktu lama kelebihan asupan menu berlemak. Bahwa benar tubuh juga membutuhkan lemak dari minyak, namun minyak jenuh harus lebih sedikit dibanding lemak tak jenuh. Minyak goreng harus lebih sedikit dari minyak zaitun, atau lemak dalam avokad atau durian.

Bila sudah terbuai oleh kelezatan menu ampas rata- rata makanan siap saji, sukar mengubah kebiasaan tidak menyehatkan seperti itu. Bahwa proses penyakit stroke dan jantung koroner itu berlangsung puluhan tahun sebelum serangannya muncul. Akibat buruknya itu tidak langsung dipikul saat duduk menikmati ayam goreng, sosis, burger, pizza, chicken wing, atau kebab – melainkan setelah sekian puluh tahun kemudian. Kesadaran penuh akan buruknya makanan siap saji yang mendorong perubahan perilaku makan. Perilaku makan yang akan bisa menghentikan proses menuju risiko serangan jantung dan kejadian stroke, selain kemungkinan kanker.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: