Ancaman Tumor Otak Pada Anak

July 16, 2014

tumor otak

Tiga hari terakhir Budi, 13 tahun panas dan ia mengeluh sakit kepala hebat yang tidak kunjung sembuh dengan obat. Pada hari ke-empat panasnya bertambah tinggi dan tiba-tiba ia mengalami kejang.

Orang tua Budi tentu kaget dan segera membawanya ke rumah sakit. Mereka takut Budi terkena tumor otak karena menderita sakit kepala dan kejang. Namun setelah diperiksa, ternyata Budi sedang terkena tifus dan hanya perlu dirawat selama beberapa hari. Sakit kepala pada anak sering dikuatirkan orangtua sebagai pertanda tumor otak. Apakah sakit kepala selalu karena tumor? Bagaimana mengenali tumor otak pada anak?

Tumor otak adalah sekumpulan sel abnormal berasal dari sel otak yang membentuk massa atau benjolan. Sel pada tumor memiliki bentuk, fungsi, dan pertumbuhan yang tidak normal. Sel ini tumbuh dengan cepat sehingga tumor semakin bertambah besar. Tumor ini dapat hanya terdapat di satu tempat, tetapi dapat juga menyebar ke jaringan di sekitarnya, atau bahkan menyusup ke organ-organ lain melalui aliran darah atau limfe.

Penyebab tumor otak belum diketahui. Ada dugaan bahwa tumbuhnya tumor otak mungkin dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Beberapa anak dengan penyakit genetik juga berisiko lebih tinggi mengalami tumor otak. Di antaranya penyakit neurofibromatosis, penyakit von Hippel-Lindau, dan sindroma Li-Fraumeni.

Tekanan di Dalam Kepala

Tumor yang sering ditemukan pada anak di antaranya adalah astrositoma, meduloblastoma, ependimoma, dan glioma. Astrositoma biasanya tidak bersifat ganas dan tumbuh dengan lambat. Tumor ini biasanya terjadi pada anak saat berusia 5 hingga 8 tahun. Meduloblastoma, tumor otak yang paling sering ditemukan pada anak-anak, terjadi sebelum anak berulang tahun ke-10.

Menurut dr. Frandy Susatia, SpS, tumor yang cukup besar dapat menyebabkan tekanan di dalam kepala meningkat karena mendorong jaringan otak yang normal di sekitarnya. Ia juga dapat menutupi saluran cairan otak sehingga cairan otak menumpuk dan menekan otak. Penumpukan cairan otak ini dapat terlihat dari luar berupa pembesaran kepala dan lingkar kepala yang lebih besar dari normal yang disebut degan hidrosefalus.

Anak yang menderita tumor otak dapat mengalami muntah, kejang, kelemahan atau kelumpuhan di wajah, badan, tangan, atau kaki (seperti stroke), bicara menjadi pelo, sulit berdiri atau berjalan, dan sulit menyeimbangkan tubuh. “Anak juga mungkin mengalami nyeri kepala yang hebat dan pembesaran kepala, terutama pada bayi,” tambahnya.

Terjadi Perubahan Sifat

Gejala yang ditimbulkan tumor otak seringkali bergantung pada lokasi tumor itu sendiri. Setiap bagian otak memiliki tugas masing-masing. Karena itu, penekanan pada bagian yang berbeda dapat memunculkan gejala yang berbeda pula. Jika penekanan terjadi pada daerah motorik, anak mungkin akan lumpuh. Penekanan pada daerah wicara membuat anak tidak bisa berbicara. Penekanan pada saraf penglihatan dapat membuat anak kehilangan seperempat, separuh atau seluruh penglihatan tergantung pada saraf yang tertekan. “Penekanan di daerah lain juga dapat menimbulkan gangguan psikiatrik seperti halusinasi, gangguan emosional, dan lain-lain,” tambahnya.

Terkadang, tumor otak hanya ditandai dengan perubahan mental seperti perubahan kepribadian dan perilaku. Anak menjadi sulit berkonsentrasi dan banyak tidur, ia mungkin juga menjadi pelupa dan sulit memahami sebab-akibat.

Gejala-gejala tersebut terjadi secara bertahap, makin lama bertambah berat dan tidak terjadi dalam waktu sehari semalam. Oleh karena itu, jika anak tiba-tiba sakit kepala atau kejang pada saat demam, bukan berarti ada tumor di kepalanya. Apalagi, tumor otak pada anak sulit didiagnosis. Memang, nyeri kepala merupakan gejala yang paling sering dialami penderita tumor otak, tetapi tumor otak pada anak sangat jarang. Nyeri kepala yang disebabkan oleh tumor otak memiliki beberapa ciri, yaitu:

  • Lebih sakit saat bangun tidur di pagi hari dan menghilang dalam beberapa jam.
  • Nyeri bertambah berat saat batuk atau berolahraga, atau saat berpindah posisi.
  • Nyeri yang terjadi saat anak tidur dan disertai entah oleh muntah atau gangguan kesadaran.

Diagnosis Melalui CT Scan dan MRI

“Dok, anak saya sering sakit kepala. Apakah mungkin ia terkena tumor otak?” Pertanyaan ini sering terlontar oleh orang tua yang kuatir. Tumor otak tidak dapat didiagnosis hanya berdasarkan satu dua gejala saja. “Jika memang terdapat kecurigaan, dokter akan menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan guna melihat apakah ada yang mencurigakan di bagian dalam otak. Pemeriksaan yang dapat digunakan untuk tujuan ini di antaranya adalah CT Scan dan MRI,” jelasnya.

Pemeriksaan CT Scan dan MRI tidak memerlukan waktu yang lama dan tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, jika anak masih belum bisa berbaring diam dalam waktu cukup lama, maka mungkin diperlukan obat untuk membuat anak tertidur.

Jika hasil CT Scan atau MRI menunjukkan adanya tumor, maka diperlukan pemeriksaan lain, yaitu biopsi. Biopsi adalah tindakan bedah untuk mengambil jaringan tumor agar dapat diperiksa. Biopsi dapat sekaligus dilakukan dengan pengangkatan seluruh tumor jika memungkinkan. Namun jika tidak, tumor dapat dibuang sebagian atau hanya diambil sedikit untuk diperiksa. Dari pemeriksaan, diagnosis dapat ditegakkan dan jenis tumor dapat diketahui. Masing-masing jenis tumor memerlukan pengobatan yang berbeda. Karena itu, biopsi sangat penting dalam menentukan terapi yang tepat.

Apa Bahayanya Penyakit ini?

Tumor otak memiliki keganasan yang berbeda-beda. Meskipun tidak ganas, suatu tumor otak dapat berbahaya jika ia menimbulkan penekanan di bagian otak yang penting. Penekanan di daerah batang otak, misalnya, dapat menyebabkan kematian mendadak akibat gangguan pada jantung dan pernapasan. Tumor yang menutupi saluran cairan otak dapat menyebabkan gangguan yang bila dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan otak.

Dalam jangka panjang, tumor dapat menyebabkan pertumbuhan kognitif anak terlambat, berupa keterlambatan bicara dan gangguan daya pikir. Pada beberapa kasus, gangguan jangka panjang dapat terjadi bahkan setelah anak dioperasi. Tumor yang mengenai hipofisis dan hipotalamus dapat menyebabkan anak kekurangan hormon-hormon penting di dalam tubuh. Kebutaan dan ketulian dapat terjadi. Selain itu, ada risiko tumbuhnya tumor kedua di otak.

Pengobatan Tumor Otak

Karena jenis tumor otak berbeda-beda, maka setiap kasus juga memerlukan pengobatan yang berbeda. Pengobatan dilakukan bergantung pada ukuran dan jenis tumor, serta kesehatan anak secara umum. Tujuan utama pengobatan adalah untuk menyembuhkan tumor, mengurangi gejala, dan memperbaiki fungsi otak.

Terapi utama tumor yang berasal dari otak adalah dengan pembedahan. Sejumlah tumor dapat dikeluarkan seluruhnya, tetapi terkadang tumor tidak dapat dioperasi atau tidak bisa dikeluarkan semuanya karena lokasinya yang sulit atau dapat mencederai bagian otak yang penting. Pada kasus seperti ini, pembedahan hanya dilakukan untuk mengurangi penekanan dan mengurangi gejala. Pembedahan dapat mengobati tumor otak sepenuhnya, tapi ada juga kasus yang masih memerlukan terapi lain. Pada tumor-tumor tertentu, anak mungkin memerlukan pengobatan radioterapi seperti kemo atau radiasi.

Meski berbahaya, namun saat ini terapi pembedahan untuk tumor otak telah berkembang pesat serta jauh lebih baikdan aman dibanding zama dahulu. Teknik operasi terus berkembang, dibantu dengan peralatan diagnostik yang lebih canggih, memungkinkan dilakukannya pembedahan dengan lebih akurat dengan kerusakan minimal pada bagian otak yang sehat.

Tumor otak pada anak juga berbeda dari tumor otak pada orang dewasa. Tumor otak pada anak jauh lebih sensitif terhadap terapi kemo. Karena itu, terapi ini merupakan terapi rutin untuk berbagai kasus tumor otak pada anak, meski efeknya tidak mengenakkan, tapi Anda dapat meyakinkan si kecil bahwa hal ini tidak akan sia-sia dan efek samping akan berlalu dalam beberapa hari.

Gangguan Otak Jangka Panjang

Ada banyak hal yang dapat memengaruhi kesembuhan anak, termasuk jenis tumor. Umumnya, 3 dari 4 anak memiliki kesintasan sedikitnya 5 tahun setelah didiagnosis. Gangguan otak dan persarafan jangka panjang dapat terjadi akibat tumor ataupun karena pengobatan. Gangguan yang dapat terjadi di antaranya gangguan perhatian, konsentrasi, dan memori atau ingatan. Anak juga mungkin bermasalah saat harus memproses informasi, membuat perencanaan, serta dalam memahami apa yang sedang ia rasakan, membuat inisiatif atau keinginan melakukan sesuatu.

Gangguan seperti ini lebih banyak terjadi jika anak mengalami tumor otak sebelum ia berusia 7 tahun, atau bahkan lebih kecil dari 3 tahun. Untuk itu, orang tua perlu memastikan bahwa anak mendapat banyak bantuan baik di rumah ataupun di sekolah. Efek jangka pendek juga dapat diperbaiki melalui terapi fisik, okupasi, dan terapi wicara. Anak juga dapat dirangsang dengan kegiatan-kegiatan untuk mempercepat kesembuhan otak.

Pada beberapa kasus, gangguan hormon pada tumor otak dapat menyebabkan anak mengalami komplikasi berupa diabetes, gangguan pertumbuhan, dan keterlambatan pubertas. Efek jangka panjang lain dapat terjadi seperti gangguan pergerakan, bicara atau menelan, serta stress emosional akibat diagnosis yang mengejutkan dan pengobatan yang menyiksa. “Untuk itu, orang tua harus waspada terhadap gejala munculnya hal-hal ini,” tambahnya.

Masalah baru dapat muncul saat anak mulai kembali ke sekolah. Ia dapat merasa tertinggal, aktivitasnya terhambat, dan teman-temannya menjauhi. Orang tua dpat membicarakan hal ini dengan guru di sekolah seandainya anak memerlukan bantuan khusus untuk pulang dan pergi sekolah, mengurangi jam pelajaran, memberi waktu lebih untuk ke toilet, menyesuaikan kegitan olahraga, dan menyesuaikan PR untuknya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: