Amankah Konsumsi Minuman Berenergi?

August 10, 2014

minuman berenergi

Badan lesu tapi harus lembur? Mengantuk tapi harus belajar untuk ujian besok? Atau capek pulang kerja tapi ingin berolahraga? Minum minuman berenergi saja. Konon, minum minuman berenergi seperti ini akan membuat mata kuat begadang semalaman dan badan tetap bugar meski sedang capek bukan kepalang. Mitos atau fakta ya? Dan apa dampaknya bagi kesehatan?

Minuman Pendorong Energi

Sesuai dengan namanya, minuman berenergi adalah minuman yang bertujuan untuk memberikan energi ekstra bagi tubuh. Minuman ini menjanjikan tubuh yang tetap terasa segar meski sedang capek dan mengantuk. Sasarannya adalah orang-orang melakukan pekerjaan fisik berat serta pekerja atau pelajar yang sedang memerlukan energi ekstra.

Saat ini, pilihan minuman berenergi semakin beragam dan kandungannya pun bermacam-macam. Masing-masing merk punya kandungan andalan yang diklaim akan menghasilkan energi lebih banyak dibanding kompetitornya. Mulai dari kafein, taurin, vitamin B, karnitin, ginseng, acai berry, hingga ginko biloba. Namun, pada dasarnya kandungan yang terbukti benar-benar menghasilkan energi hanya dua, yaitu kafein dan glukosa alias gula.

Kafein adalah salah satu zat yang paling banyak digunakan sebagai obat. Kafein telah digunakan selama berabad-abad untuk menimbulkan efek stimulansia dengan menghambat kerja adenosin. “Adenosin adalah zat kimia di otak yang merangsang terjadinya tidur. Jika dihambat, maka tubuh mengira sedang terjadi situasi darurat sehingga tetap terjaga dan melepaskan adrenalin,” jelas dr. Ekky M. Rahardja, MS, SpGK. Selanjutnya ia akan merangsang sistem saraf pusat agar meningkatkan kewaspadaan dan bersifat melebarkan pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah dan frekuensi denyut jantung dapat meningkat. Tubuh juga jadi melepaskan dopamin, yang menimbulkan rasa rileks. Kombinasi hal-hal ini membuat orang yang mengonsumsi kafein merasa lebih bertenaga.

Bagaimana dengan glukosa? Glukosa atau gula adalah bahan bakar utama bagi sel-sel tubuh. Karena minuman berenergi mengandung kadar gula yang tinggi, maka energi yang dihasilkan juga banyak. Meski demikian, minum gula terlalu banyak juga dapat menimbulkan efek yang kurang baik bagi tubuh. “Selain berhubungan dengan terjadinya diabetes, obesitas, dan peningkatan kadar insulin secara mendadak, kadar glukosa yang tinggi di dalam darah juga dapat menimbulkan perasaan tidak enak di dalam tubuh,” tambahnya.

Meski kafein dan glukosa sama-sama terdapat di dalam minuman bersoda, tapi kadarnya tidak sama. Minuman bersoda biasanya hanya bertujuan untuk menghilangkan haus dan tidak menimbulkan efek apa-apa terhadap tubuh. Minuman berenergi ini juga berbeda dari minuman isotonik atau minuman olahraga, karena tidak mengandung elektrolit.

Dampak Dosis Tinggi Kafein

Kafein alami yang kita kenal banyak terdapat di alam, yaitu pada kopi dan teh. Efek stimulansia kafein di dalam kopi dan teh inilah yang menyebabkan orang yang meminumnya dipercaya menjadi susah tidur. Kafein juga memiliki efek diuretik atau peluruh kencing dan dapat menyebabkan cairan tubuh berkurang. Di zaman modern, kafein ikut menjadi salah satu kandungan wajib dalam minuman berenergi dan minuman bersoda.

Setiap kaleng atau botol minuman berenergi mengandung kadar kafein dan glukosa yang berbeda-beda. Kafein yang terkandung sama dengan yang terdapat di dalam kopi. Kadar kafein dalam minuman berenergi dapat mulai dari 80 mg hingga 300 mg per kemasan. Sedangkan dalam satu cangkir kopi biasanya mengandung 75 mg hingga 100 mg kafein. Ini berarti, satu kaleng minuman berenergi dapat mengandung kafein hingga tiga kali satu cangkir kopi. Padahal, dosis aman kafein yang dianjurkan hanya 400 mg per hari. Pada kenyataannya, tidak jarang orang meminum minuman berenergi lebih dari satu kemasan per hari atau bahkan hanya dalam selang waktu beberapa jam. Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan orang tidak bisa tidur, jantung berdebar-debar, sakit kepala, mual, ansletas, dan gemetaran.

Kafein dapat menimbulkan efek merusak saraf serta pembuluh darah dan jantung pada anak-anak. Karena itu, minuman berkafein tidak boleh diberikan kepada anak-anak, termasuk juga kopi dan soda. Dampak ini juga dapat terjadi pada remaja dan anak-anak muda, sehingga diperlukan perhatian khusus mengingat minuman berenergi sering digunakan oleh anak-anak ini untuk memulihkan energi seiring dengan banyaknya aktivitas, seperti olahraga, ujian, dan tugas-tugas kuliah.

Bukan Sekedar Tentang Kafein

Ada banyak pertentangan dalam penggunaan minuman berenergi karena kandungan kafeinnya yang tinggi. Namun, yang menjadi masalah sesungguhnya bukan hanya kafein saja. Saat ini, banyak minuman berenergi yang mengandung banyak campuran untuk meningkatkan efek bugar. Sebut saja taurin, vitamin B, ginseng, dan karnitin.

Taurin adalah asam amino yang berfungsi dalam pengaturan detak jantung, kontraksi otot, dan tingkat energi. Taurin juga dapat menurunkan kadar kolesterol serta meningkatkan aliran darah dan oksigen ke sel jantung. Meski demikian, taurin dapat diproduksi secara alami oleh tubuh dalam jumlah cukup sehingga tidak perlu tambahan dari luar.

Vitamin B dapat membantu tubuh untuk merubah makanan menjadi energi. Umumnya, kita dapat memenuhi kebutuhan vitamin B cukup dari makanan sehari-hari. Karena itu, efek penambahan energi pada minuman berenergi masih diragukan. Apalagi, pemberian vitamin B6 dan B12 yang diminum tidak dapat diserap dengan baik.

Ginseng telah lama dikenal sebagai obat herbal yang dipercaya dapat meningkatkan energi dan vitalitas. Ginseng berguna untuk mengatasi kelelahan, meredakan stress, dan menguatkan daya ingat. Ginseng juga diduga dapat merangsang hipotalamus dan hipofisis yang menghasilkan hormon. Zat-zat yang terkandung di dalam ginseng tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia, sehingga ada kemungkinan tubuh akan bereaksi menolaknya. Meski demikian, kadar ginseng di dalam minuman berenergi sangat kecil untuk menimbulkan efek, baik efek samping maupun efek manfaat.

Zat lain yang sering digadang-gadang sebagai pendorong energi dalam minuman berenergi adalah L-karnitin. L-karnitin adalah asam amino yang dihasilkan secara alami oleh hati dan ginjal. Fungsinya adalah untuk membantu mempercepat metabolisme dan meningkatkan jumlah energi. L-karnitin juga dapat meningkatkan daya tahan selama berolahraga.

Meski kandungan zat-zat ini diklaim dapat menambah energi, tetapi timbul kekuatiran di kalangan para ahli bahwa kombinasi zat-zat tersebut malah dapat menimbulkan dampak berbahaya bagi tubuh. Pasalnya, interaksi dan kadar pasti zat-zat tersebut di dalam tubuh belum diketahui. Selama ini, minuman berenergi diketahui berhubungan dengan kejadian kerusakan hati, kejang, dan agitasi. Selain itu, dapat juga terjadi gangguan irama jantung, kegagalan jantung, hipertensi, dan rabdomiolisis atau kerusakan otot.

Kebablasan yang Berbahaya

Orang sering salah persepsi bahwa minum minuman berenergi akan dapat meningkatkan kemampuan fisik. Minum minuman berenergi sebelum berolahraga dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, serta menimbulkan rangsang yang terlalu besar pada jantung atau sistem saraf. Apalagi, konsumsi minuman berenergi sering kebablasan karena konsumen merasa aman, misalnya dua hingga tiga kemasan dalam satu waktu.

Minum terlalu banyak minuman berenergi dapat menimbulkan gangguan perut, kaki terasa lemas, jantung berdebar-debar, gemetaran, gelisah, dan lain sebagainya. Efek ini akan semakin nyata jika diminum saat perut dalam keadaan kosong. Energi boleh jadi bertambah, tetapi orang tersebut juga dapat lebih sensitif dan mudah marah, sulit berkonsentrasi, timbul hiperaktivitas, gangguan tidur, mual, dan tekanan darah meningkat.

Tidak jarang dijumpai orang yang meminum minuman berenergi setiap hari karena harus bekerja dengan mengandalkan fisik. Minum minuman berenergi jangka panjang dapat menimbulkan gangguan pada hati dan ginjal.

Aman Minum Minuman Berenergi

Butuh tambahan energi? Ada cara-cara yang lebih terpuji dibandingkan minum minuman bernergi. “Misalnya dengan pola makan yang sehat, berolahraga, dan tidur cukup,” ujarnya. Jika memang perlu, kopi mungkin pilihan yang lebih baik mengingat dampak kafein dosis tinggi yang tidak baik. Dianjurkan untuk tidak meminum minuman berkafein lebih dari 2-3 cangkir sehari, dan sebaiknya diminum bersama makanan atau setelah makan. Masing-masing orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap kafein. Jika Anda termasuk orang yang sensitif terhadap kafein, Anda dapat mencoba minuman dengan kadar kafein setengahnya atau tanpa kafein.

Dalam satu minuman berenergi biasanya terkandung beberapa zat stimulan. Karena itu, penderita hipertensi atau penyakit jantung dianjurkan untuk menghindari stimulan-stimulan ini. Jika ingin mengonsumsi, sebaiknya coba sedikit saja terlebih dahulu untuk menilai reaksi tubuh terhadap minuman tersebut. Selama mencoba dan meminum minuman ini, Anda juga dianjurkan untuk menghindari aktivitas fisik sementara waktu.

Anak, remaja, dan dewasa muda dengan gangguan jantung, ADHD (attention-deficit hyperactivity disorder), gangguan makan, diabetes, serta mereka yang sedang meminum obat atau mengonsumsi alkohol juga harus menghindari minuman berenergi. Selain itu, kafein yang terdapat dalam minuman berenergi, diduga dapat mengganggu mineralisasi tulang pada masa pertumbuhan anak-anak dan remaja.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: