Amankah Endoskopi Untuk Anak?

December 25, 2014

endoskopi untuk anak

“Adi, anak saya, sempat batuk selama sebulan dan tidak kunjung sembuh. Sejujurnya, saya sempat bingung waktu itu. Rontgen sudah, tes dahak sudah, tes Mantoux sudah, tapi hasilnya nihil. Berhubung Adi juga sering sendawa dan mengeluh perutnya sakit, dokter anak kemudian menganjurkan pemeriksaan endoskopi. Saya makin bingung, apa itu endoskopi dan bagaimana menjelaskan ke Adi supaya ia tidak takut,” keluh seorang Bu Diah yang sedang menunggu di depan ruang operasi. Mendengar endoskopi, Anda yang orang dewasa saja mungkin takut, apalagi anak-anak. Namun, tahukah Anda apa yang dimaksud dengan endoskopi, apa risikonya, dan bagaimana cara menjelaskan hal ini kepada si kecil?

Meneropong ke Dalam Tubuh

Endoskopi adalah prosedur pemeriksaan dengan memasukkan alat ke dalam saluran cerna. Alat endoskopi berbentuk seperti selang yang lentur dengan kamera di bagian ujungnya. Kamera ini akan memperlihatkan bagian dalam saluran cerna melalui layar televisi sehingga dokter dapat melihat apa yang terjadi di dalam kerongkongan, lambung, hingga usus secara live. Inilah sebabnya, prosedur endoskopi sering juga dikenal dengan teropong.

Endoskopi dapat dianggap sebagai salah satu prosedur bedah. Karena itu, selama endoskopi berlangsung si kecil akan ditidurkan menggunakan bius umum. Setelahnya, barulah dokter akan meneropong ke dalam saluran cerna. Selesai meneropong ke dalam saluran cerna, dokter bedah akan mengambil sampel jaringan seujung kuku dari setiap bagian saluran cerna. Hal ini disebut biopsi. Jaringan tersebut akan diperiksa di bawah mikroskop untuk memastikan kondisi si kecil, saat endoskopi berlangsung, dokter bedah tidak akan bekerja sendiri. Ada asisten-asistennya yang membantu, serta ada dokter anestesi yang mengawasi si kecil selama ia tidur.

Setelah prosedur selesai, dokter bedah akan menemui Anda dan menjelaskan apa saja yang ditemukan pada pemeriksaan. Ia dapat memperlihatkan hasil pemeriksaan dari rekaman video. Setelah itu, barulah dokter mengajukan pilihan-pilihan terapi selanjutnya.

Juga Dapat Digunakan Untuk Mengobati

Endoskopi pada anak sering dianjurkan untuk mengetahui penyebab anak mengeluh sulit menelan, mengalami penurunan berat badan atau tidak mau makan, nyeri perut bagian atas atau dada yang bukan berasal dari jantung, GERD (gastroesophageal reflux disease), dan muntah terus-menerus tanpa diketahui sebabnya. Alat ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengeluarkan benda asing yang tidak sengaja tertelan, seperti uang logam, mainan, hingga makanan yang terlalu besar dan tersangkut di kerongkongan. Selain itu, endoskopi dapat membantu dokter untuk menentukan berat ringannya kerusakan saluran cerna akibat anak tidak sengaja meminum bahan kimia rumah tangga.

Prosedur endoskopi umumnya digunakan untuk menegakkan diagnosis dan menentukan derajat kerparahan penyakit. Namun, pada kasus-kasus tertentu, endoskopi juga dapat dimanfaatkan untuk menghentikan perdarahan, ataupun mengambil sedikit jaringan guna diperiksa di laboratorium. Bahkan, teknik ini juga dapat digunakan untuk mengatasi penyakit seperti penyakit Crohn, penyakit inflamasi di usus halus, polip usus, reaksi alergi di usus, hingga untuk mengeluarkan batu empedu pada anak.

Sama seperti prosedur medis lainnya, ada beberapa risiko yang harus dihadapi pada endoskopi, di antaranya reaksi terhadap obat anestesi, cedera atau perdarahan pada bagian dalam saluran cerna, atau infeksi. Untungnya, risiko ini jarang terjadi dan dapat ditangani dengan segera. Namun, jika dilakukan oleh dokter yang ahli, endoskopi tergolong sebagai prosedur yang sangat aman, termasuk bagi anak dan bayi sekalipun.

Persiapkan Psikisnya

Endoskopi dapat menakutkan bagi siapa saja. Pasalnya, prosedur endoskopi melibatkan proses memasukkan selang berkamera melalui mulut, yang kemudian ditelan ke dalam kerongkongan. Kekuatiran ini dapat semakin bertambah jika ternyata buah hati Anda yang harus menjalaninya. Banyak orang tua yang menolak prosedur ini karena enggan membayangkan kerongkongan anaknya dijejali dengan selang. Orang tua juga tidak jarang mengalami kesulitan untuk menjelaskan kepada si kecil mengenai prosedur endoskopi.

Untuk menanggulangi hal ini, orang tua perlu membekali diri dengan pengetahuan yang cukup mengenai endoskopi dan pentingnya anak menjalani prosedur ini. Agar anak tidak berontak pada hari-H, orang tua tidak dianjurkan untuk membohongi atau menutup-nutupi prosedur hingga saat ia tiba di rumah sakit. Sebaliknya, ayah bunda perlu menjelaskan kepada si kecil tentang apa yang akan terjadi dengan bahasa yang dapat ia mengerti, minimal satu atau dua hari sebelumnya. Tidak perlu secara detil, cukup beritahu bahwa si kecil perlu tidur beberapa menit agar dokter dapat memeriksanya. Setelah selesai, ia boleh bangun dan melihat ayah bunda di sampingnya. Anak yang sudah agak besar mungkin akan bertanya lebih lanjut, apakah nanti akan dipasang infus, apakah ia boleh bergerak sesudahnya, apakah akan terasa sakit. Untuk itu, Anda bisa mengajaknya berdiskusi dengan dokter dan ikut mengambil keputusan.

Si kecil merasa takut atau gelisah menghadapi pemeriksaan? Ini wajar dan dialami hampir semua anak yang akan menjalani tindakan medis. Pada saat ini, ia akan sangat membutuhkan perhatian Anda. Ayah bunda dapat mengajaknya berdiskusi mengenai hal-hal yang ia kuatirkan atau memberitahunya apa yang akan dilakukan dokter untuk membuatnya tidur sambil bermain. Anda juga dapat menanyakan kepada perawat dan dokter apakah si kecil boleh membawa boneka atau maninan kesayangan untuk ‘menemaninya’ di rumah sakit, jika si kecil terlihat merasa takut berlebihan, Anda bisa meminta dokter untuk mengonsultasikan si kecil kepada psikolog anak guna mengatasi rasa takutnya.

Bisa Langsung Pulang

Bila prosedur berlangsung lancar, umumnya si kecil tidak perlu berlama-lama dirawat di rumah sakit. Meski demikian, berhubung ia mendapat bius umum, kadang si kecil masih perlu diawasi. Saat si kecil sudah boleh pulang, ayah bunda juga perlu memperhatikan seandainya timbul gejala-gejala yang tidak biasa. Tanyakan ke dokter jika sesampainya di rumah si kecil merasa menggigil atau demam, sakit perut, mual atau muntah, atau buang air besarnya kental berwarna kehitaman atau berdarah. Konsultasikan juga jika ia mengalami sulit menelan atau sakit tenggorokan dan nyeri dada yang semakin buruk atau tidak kunjung reda dalam waktu 48 jam.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: