Alergi Susu Sapi, Bagaimana Solusinya?

July 27, 2013

susu sapi

Susu adalah sumber makanan utama bagi bayi. Meski demikian, sekitar 5% sampai 15% bayi dapat menunjukkan reaksi yang tidak diinginkan terhadap susu sapi, misalnya intoleransi laktosa. 2% sampai 7,5% juga dapat mengalami reaksi alergi terhadap protein susu sapi. Alergi protein susu sapi dapat menyebabkan anak sulit makan hingga berat badan susah naik, dan daya tahan tubuh menurun. Perilaku yang menyertai bayi dengan alergi protein susu sapi, misalnya gangguan neuro anomotis. Yakni tangan dan kaki mudah bergetar, dan saat menangis napas berhenti beberapa detik yang kadang disertai bibir biru dan tangan kaku. Kadang, mata juling dan kejang. Selain itu, gerakan motoriknya berlebihan. Tangan kaki terus bergerak-gerak sehingga tidak bisa diselimuti atau dibedong. Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi bayi melengkung. Karena gelisah dan mengalami gangguan tidur, secara tidak langsung alergi protein susu sapi berisiko menggangu tumbuh kembang bayi.

Selanjutnya, bagaimana mengenali apakah bayi mengalami alergi susu sapi? Apa yang dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi? Apakah anak dapat tetap tumbuh dengan normal?

Ditandai Dengan Gelaja Alergi

Alergi protein susu sapi, timbul sebagai reaksi tubuh terhadap satu atau lebih protein susu. Reaksi alergi dapat timbul dalam hitungan menit sampai beberapa jam setelah meminum susu. Gejala yang timbul dapat ringan ataupun berat. Mulai dari muntah, gatal dan bentol-bentol, sesak napas (napas berbunyi ngik-ngik), sampai gangguan pencernaan. Meski jarang, reaksi yang berat juga dapat menyebabkan reaksi anafilaksis yang berbahaya. Hal ini berbeda dengan intoleransi laktosa, di mana bayi mengalami diare atau buang air besar yang encer, kadang bercampur darah, serta kembung setelah meminum susu apapun.

Alergi protein susu sapi sangat jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif selama sedikitnya 4 bulan pertama kehidupannya, dibanding bayi yang mendapat susu formula saja, atau ASI dicampur formula. Kalaupun terjadi, reaksi alergi bersifat ringan atau sedang, tidak sampai berat. Untuk bayi yang alergi terhadap protein susu sapi, semua produk susu sapi harus dihindari, termasuk yang dimasukkan sebagai campuran bahan makanan. Dalam hal ini, ibu yang menyusui bayi dengan alergi susu sapi juga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi susu sapi maupun produk-produk turunannya, seperti keju, yogurt, dan lain-lain.

Pengganti Susu Sapi

Sumber makanan terbaik bagi bayi adalah susu manusia sendiri, atau air susu ibu (ASI). ASI eksklusif sangat dianjurkan, terutama jika bayi berisiko tinggi mengalami alergi susu. Jika tidak ada pilihan, maka ada beberapa alternatif yang dapat anda pilih untuk buah hati tercinta.

Susu formula terhidrolisa

Susu ini dihasilkan dengan memanfaatkan enzim untuk memecah (menghidrolisa) protein susu. Selanjutnya, susu akan dipanaskan dan difiltrasi. Susu yang dihasilkan dapat terhidrolisa sebagian ataupun sepenuhnya terhidrolisa. Susu yang terhidrolisa sebagian, masih dapat menimbulkan reaksi pada bayi yang alergi. Susu ini biasanya dianjurkan bagi bayi yang berisiko mengalami alergi susu sapi. la tidak dianjurkan untuk bayi yang sudah mengalami alergi.

Sedangkan susu yang terhidrolisa sepenuhnya, lebih bersifat hipoalergenik. Ia mengandung nutrisi lengkap yang diperlukan bayi dengan gangguan pencernaan, atau yang intoleran/alergi terhadap protein susu sapi. 90% bayi yang alergi susu sapi dapat menggunakan susu ini. Selain bayi yang alergi, susu ini juga dapat diberikan pada bayi dengan malabsorpsi atau gangguan penyerapan makanan.

Amino acid formula

Formula ini mengandung asam amino, yaitu protein dalam bentuk terkecil yang lebih mudah diserap dan mengandung nutrisi lengkap bagi bayi. Susu ini cocok bagi bayi yang sangat alergi terhadap protein susu sapi dan tidak dapat menggunakan formula terhidrolisa.

Susu kedelai

Terbuat dari susu dengan protein kedelai, susu ini cukup populer sebagai pengganti susu formula. Susu kedelai murni tidak dianjurkan karena nutrisi yang dikandung kurang lengkap dan kurang sesuai dengan kebutuhan anak. Oleh karena itu, sebaiknya menggunakan susu formula kedelai yang sudah diperkaya dengan nutrisi pelengkap lainnya.

Susu kedelai banyak dipilih, karena merupakan alternatif yang jauh lebih murah dan lebih disukai anak dibanding susu terhidrolisa ataupun formula asam amino. Permasalahannya adalah, data menunjukan sebagian anak yang mengalami alergi protein susu sapi juga akan mengalami alergi terhadap protein susu kedelai, ini terutama terjadi pada bayi berusia kurang dari 6 bulan. Anak yang cenderung memiliki banyak alergi terhadap bahan makanan, biasanya juga akan alergi terhadap protein kedelai.

Susu formula kedelai dapat dipertimbangkan bagi bayi yang menolak minum susu terhidrolisa dan/atau formula asam amino, terutama bagi bayi berusia lebih dari 6 bulan.

Alternatif bagi anak yang alergi protein susu sapi adalah dengan mengatur pola makan anak. Anak dapat dikonsultasikan ke ahli gizi, agar dapat memperoleh nutrisi yang cukup tanpa harus mengonsumsi susu. Kekurangan nutrisi yang terdapat dalam susu, seperti kalsium, vitamin D,dan riboflavin, dapat diganti dengan pemberian suplemen.

Yang Mana Yang Harus Dipilih?

Bayi yang mendapat ASI dan mengalami alergi setiap kali ibu mengonsumsi produk susu sapi, berisiko mengalami alergi susu sapi. Terkadang, alergi dapat hilang seiring dengan waktu. Tapi jika masih alergi, sebaiknya bayi mendapat susu formula yang terhidrolisa sepenuhnya setelah disapih. Susu ini juga dianjurkan untuk bayi berusia 9-12 bulan. Jika masih beraksi juga, baru dapat diberikan formula asam amino.

Susu formula terhidrolisa sepenuhnya ataupun susu asam amino merupakan pilihan utama untuk bayi dengan gejala alergi yang ringan atau sedang. Jika dalam 2-4 minggu gejala alergi membaik atau menghilang, berikutnya dapat dilakukan tes alergi makanan di bawah pengawasan dokter. Tes makanan ini hanya boleh dilakukan dengan persiapan seandainya terjadi reaksi berat seperti anafilaksis. Pemberian susu pengganti ini dapat dilanjutkan sedikitnya sampai bayi berusia 6 bulan, atau sampai 9-12 bulan.

Jika gejala tidak kunjung membaik dengan susu terhidrolisa, maka asam amino menjadi pilihan utama. Anak juga mungkin perlu diperiksakan kembali ke dokter anak, untuk menyingkirkan kemungkinan bahwa gejala bukan disebabkan oleh alergi susu sapi.

Tetap Dapat Tumbuh Normal

Dengan tersedianya alternatif pengganti susu sapi, maka anak dengan alergi tetap dapat memperoleh nutrisi yang dibutuhkan. Dengan demikian anak dapat tumbuh dengan normal, layaknya anak tanpa alergi. Jika memang terjadi alergi, jangan dibiarkan. Bawa anak ke dokter dan ahli gizi, agar anak dapat tetap tumbuh normal. Semakin cepat alergi susu diketahui dan diobati, maka makin normal pertumbuhan anak nantinya.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: