6 Cara Diet yang Menyenangkan

July 26, 2014

cara diet

Pikiran punya andil yang sangat besar dalam menentukan sukses tidaknya diet Anda. Jangan kaget kalau berat badan terkikis dengan sendirinya. Plus, Anda tidak merasa tersiksa lagi.

Anda sudah membaca hampir semua buku diet dan mencobanya. Awalnya berhasil, sih. Tetapi, kemudian, suatu hari Anda terbangun dengan perasaan tersiksa dan tidak ingin makan sepiring buah atau semangkuk sayuran lagi. Anda menghitung setiap kalori yang masuk ke mulut Anda selama dua minggu, tetapi kemudian terpuruk lagi pada kebiasaan lama. Setelah setahun berat badan turun-naik, Anda mungkin bertanya-tanya, “Apa, ya, yang salah dalam program diet saya?”

Kunci sukses diet tidak hanya tergantung pada setiap kalori yang Anda hitung atau berapa banyak karbohidrat yang Anda konsumsi. Tanpa Anda sadari, Anda sering melupakan kekuatan pikiran untuk mengubah kebiasaan makan. Padahal, otak berperan sangat penting dalam program diet.

Menurut dr. Inayah Budiasti S., MS, SpGK, spesialis gizi dari Hang Lekiu Medical Center, makan adalah hal terpenting dalam hidup manusia. Lebih dari setengah waktu hidup Anda dihabiskan untuk memikirkan makanan. Ketika seseorang berulang tahun, Anda cenderung memintanya mentraktir makan. Begitu juga ketika mendapat promosi jabatan, memasuki rumah baru, lulus kuliah, menang undian, atau mendapat pacar baru, Anda cenderung ingin mengajak orang lain makan-makan.

Otak yang melulu berpikir tentang makan akan membuat program diet yang membatasi asupan makanan, terasa sangat menyiksa. Begitu Anda mengurangi kalori yang masuk, otak akan ‘meracuni’ Anda untuk kembali menambah kalori. “Mengubah pola pikir tentang makanan dan kebiasaan makan, akan membuat diet tidak terasa menyiksa lagi,” kata Budiasti. Hanya dengan mengontrol pikiran, tahu-tahu berat badan sudah turun dengan sendirinya, tanpa Anda sadari.

Berawal dari Pola Pikir

Cara pandang Anda tentang makanan dan diet, akan mempengaruhi cara Anda berdiet. Karena itu, agar diet berhasil, cobalah ubah pola pikir Anda.

1. Hayati makanan.

Di hari yang sangat sibuk, Anda menyambar setangkup sandwich dan memakannya dengan tergesa di dalam mobil yang akan membawa Anda bertemu dengan klien. Atau Anda sibuk membaca kertas presentasi, sehingga tidak ingat bagaimana rasa sandwich yang dimakan. “Makanan yang dengan cepat masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan ‘kemacetan’. Hormon insulin akan bertindak seperti polisi yang segera membuang makanan ke ‘gudang’ lemak, agar tidak terjadi kemacetan.”

Ini menyebabkan tubuh tidak merasakan makanan dengan benar. Akibatnya, tubuh menagih ke otak, “Makanan tadi rasanya apa, ya? Mau lagi, dong. Kami belum mencicipi rasanya.” Setengah jam kemudian Anda sudah merasa lapar lagi. Otak memerintahkan Anda makan lagi untuk memenuhi tuntutan tubuh. Karenanya, jika ingin makan, duduklah di meja makan, taruh makanan di piring, dan mulai makan dengan perlahan. Hayati setiap rasanya, agar Anda tidak segera lapar lagi.

2. Ubah kebiasaan memandang makanan sebagai pemberi rasa nyaman.

Makanan bersifat menyamankan. “Jika Anda sedang kesal, sepotong cake akar terasa seperti obat bagi kekesalan,” kata Budiasti. Sebaiknya cari cara lain untuk menyamankan pikiran. Anda bisa berendam dalam gelembung busa, melakukan manicure, duduk di bawah kehangatan matahari pagi, atau bermain dengan kucing peliharaan. Untuk menyelaraskan pikiran, coba teknik relaksasi dengan mengatur pernapasan. Gampang, kok. Memang butuh sedikit latihan. Tetapi, setiap orang pasti bisa melakukannya.

3. Sabar dan jangan terobsesi.

Menurunkan berat badan sebaiknya tidak dilakukan secara instan. “Jangan mengharapkan penurunan berat badan yang tidak realistis, seperti 10 kg dalam sebulan.” Berat badan yang turun sangat cepat, selain berbahaya, juga berpotensi kembali lagi dengan cepat pula. Ini karena tubuh dan pikiran tidak sanggup beradaptasi dengan perubahan drastis.

Anda bisa terobsesi dan menjadi stres. Jika hanya bisa turun 1 kg sebulan, itu sudah cukup baik. “Daripada sibuk memikirkan tidak makan apa supaya berat badan turun, lebih baik memikirkan makan apa supaya sehat. ‘Tidak makan apa’ terdengar lebih menyiksa.”

4. Saat pikiran ‘meracuni’, ‘bicarakan’ baik-baik.

“Jika berusaha memangkas kalori, pikiran akan terus-menerus membujuk Anda untuk menambahnya lagi.” Suara-suara seperti, “Ayolah, satu potong biskuit cokelat tidak akan membuat kamu gemuk” atau “Kamu, kan, sudah turun 4 kilo bulan ini. Jadi, tidak ada salahnya makan dua potong pizza hari ini saja” terasa begitu dekat di telinga Anda. Jika mengikutinya, Anda akan kembali pada kebiasaan makan yang lama. Daripada tersiksa oleh suara-suara tersebut, lebih baik Anda ‘mengajaknya’ berdiskusi. Katakan pada diri sendiri, “Kamu yakin mau makan dua potong pizza? Kalau keterusan dan dietnya gagal, ‘kan, kamu sendiri yang rugi.” Dengan berdialog, Anda sadar konsekuensi setiap tindakan dan bisa berdamai dengan diri sendiri.

5. Jangan tunggu tubuh ‘berteriak’.

Menurut Budiasti, jika Anda ingin berdiet, sebaiknya jangan menunggu hingga lapar begitu mendera. Ini jauh lebih menyiksa daripada makan lebih sering dengan jumlah sedikit tetapi teratur. Dengan cara ini, Anda tidak pernah merasa sangat kelaparan atau kekenyangan. “Jika kelaparan, Anda akan cenderung kalap dan makan segalanya tanpa memikirkan apa yang Anda makan dan sudah berapa banyak yang masuk ke tubuh. Dan jika kekenyangan, artinya Anda sudah kelebihan kalori.”

6. Langkah kecil lebih mudah.

Membayangkan harus turun 20 kg sama dengan membayangkan ‘terjebak’ di treadmill dan mengatur pola makan untuk waktu yang sangat lama. Hal ini bisa menurunkan motivasi Anda. Bayangan siksaan demi siksaan akan membuat Anda patah semangat. Ganti pola pikir Anda dengan hanya memikirkan langkah kecil untuk menghilangkan 1 kg berikutnya dari tubuh, bukan 20 kg.

Diet yang Bukan Diet

Ini adalah buku yang menyarankan Anda untuk berdiet dengan cara mengubah pola pikir. Buku karangan Prof. Ben Fletcher, Dr. Karen Pine, dan Dr. Danny Penman ini menawarkan metode langsing tanpa diet. Sama seperti Roberts, Fletcher juga seorang psikolog. Intinya, Anda harus melenyapkan kebiasaan lama yang telah membuat Anda gemuk.

Menurut penelitian ilmiah yang dilakukan Fletcher, orang gemuk memiliki kesamaan kebiasaan buruk tertentu. Anehnya, kebiasaan buruk itu bukan yang berhubungan dengan makanan. Fletcher kemudian menemukan, jika seseorang memutus kebiasaan buruk tersebut, berat tubuh akan turun dengan sendirinya. Mengubah kebiasaan merupakan tahap persiapan untuk melakukan diet ini. Hal-hal kecil, seperti tidak menonton televisi, menulis sesuatu selama 15 menit, tidak meminum minuman favorit, berjalan kaki selama 15 menit sambil memikirkan hidup, bangun satu jam lebih dini, membuat daftar apa yang ingin dicapai tahun depan, dan melakukan satu kebaikan yang dapat mengubah hidup orang lain, merupakan cara penting untuk mematahkan kebiasaan buruk.

Menurut Budiasti, kebiasaan sehari-hari yang buruk memang terkadang membuat Anda memiliki kebiasaan makan yang buruk juga. Misalnya, kebiasaan menonton TV sambil ngemil. Mengubah perilaku juga bisa mematahkan kebiasaan lama, karena kebiasaan dikendalikan oleh perilaku. Misalnya, jika Anda biasanya berperilaku tenang atau santai, ubah menjadi bersemangat atau bergairah. Jika biasanya Anda spontan, ganti menjadi lebih sistematis. Perilaku yang berubah itu otomatis akan mengubah kebiasaan lama. Berubahnya kebiasaan juga bisa membuat seseorang melupakan makanan. “Kalau sudah melakukan kebiasaan berbeda, orang akan menemukan hal-hal baru yang menarik perhatian, sehingga perhatian terhadap makanan menjadi teralihkan.”

Selanjutnya, diet ala Fletcher ini juga mengajarkan tahap demi tahap perubahan diri yang harus Anda lakukan untuk mengubah kebiasaan buruk. Tahap-tahap ini dilakukan secara sistematis, sehingga tanpa Anda sadari, berat badan telah turun dengan sendirinya. Menurut Fletcher, cara ini tidak hanya menurunkan berat badan secara bertahap dan perlahan, tetapi juga membuat kualitas hidup meningkat dan Anda menjadi lebih bahagia.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: