10 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Kanker

October 8, 2013

kanker

Orang bertanya apa benar sekarang penyakit kanker lebih banyak dari zaman dulu? Benarkah sekarang semakin mudah orang terserang kanker. Dapatkah kanker kita cegah? Semua seluk beluk kanker kita membahasnya di bawah ini.

1. Beda kanker dengan tumor

Tumor dan kanker sama-sama pertumbuhan abnormal dari sel tubuh. Bedanya, pertumbuhan tumor lebih jinak dibanding kanker. Bertambah banyaknya sel tumor terbatas saja, dan tidak mengganggu sel-sel di sekitarnya. Itu maka tumor disebut pertumbuhan jinak.

Sedang kanker disebut tumor ganas. Selain pertumbuhan selnya abnormal dalam sifat dan jumlah, kanker mengganggu dan merusak sel-sel jaringan di sekitarnya. Pada stadium lanjut, sel-sel kanker menyebar ke mana-mana bagian organ tubuh, atau kita menyebutnya metastasis. Sedangkan tumor tidak.

Setiap organ tubuh memiliki sel yang berbeda-beda. Dan setiap jenis sel tubuh dapat berubah sifat tabiatnya menjadi sel kanker. Ia tidak patuh lagi pada perintah. Sel normal yang membelah-belah diri mengikuti aturan dan program. Jika berubah sifat menjadi sel kanker, mendadak sel menyimpang dari aturan. Selain berubah tabiat, sel berbiak puluhan sampai ratusan kali lipat sel normal.

Oleh karenanya, setiap jenis sel tubuh bisa berubah sifat menjadi sel kanker, maka jenis kanker pun sebanyak ragam sel tubuh, sesuai organ yang mengalaminya. Ada belasan jenis kanker yang kita kenal. Setiap jenis kanker pada suatu organ memiliki jenis-jenisnya sendiri-sendiri lagi. Kanker darah misalnya, bukan hanya satu jenis saja.

Yang menjadi pertanyaan mengapa sel tubuh yang semula normal berubah sifat menjadi abnormal? Itulah yang menjawab apa saja sebagai penyebab kanker. Dengan mengetahui penyebab kanker, kita masih mungkin untuk mencegahnya.

2. Mengapa orang terserang kanker?

Penyebab kanker itu banyak (multifactorial), maka tidak mudah melacak penyebab setiap kasus kanker. Faktor-faktor risiko itu mulai dari gen, diet, virus, polusi lingkungan, sistem kekebalan tubuh, sampai usia lanjut.

Rokok, misalnya, betul salah satu faktor risiko (behaviour risk) terserang kanker paru-paru. Tapi tidak setiap perokok tentu bakal terserang kanker paru-paru. Ada faktor lain yang mendukung apakah kanker paru-paru pada seseorang akan muncul atau tidak. Namun, ini bukan menjadi berarti untuk mencegah kanker paru-paru rokok tidak perlu dijauhi.

Banyak pula orang yang secara genetik berbakat kanker yang diwarisi dari orang tua, tapi belum tentu kankernya muncul jika faktor pencetusnya (presipitasi) tidak bekerja pada dirinya. Faktor pencetus di sini kita kenal sebagai faktor carrinogenic.

Faktor gen sebagai faktor risiko kanker tak mungkin kita elakkan. Begitu pula dengan bertambahnya umur. Namun, dalam upaya pencegahan kanker, kita masih mungkin meningkatkan kekebalan tubuh, menghindar dari pelbagai carcinogen yang mengancam dalam diet, serangan virus tertentu, polusi udara, kegemukan, dan tembakau sendiri.

3. Jadi dapatkah kanker dicegah?

Sekarang ini semakin banyak gen kanker ditemukan. Gen kanker payudara (BRCA), misalnya. Orang dengan gen kanker berarti sudah menyimpan bakat bakal terkena kanker tertentu, tinggal menunggu apa faktor pendukungnya, yaitu bahan carcinogen juga bekerja pada tubuhnya. Jika ada, berarti cuma soal waktu saja, kanker akan muncul.

Masalahnya oleh karena kita tidak tahu, kita tidak sadar kalau tubuh kita membawa faktor gen kanker itu. Kita hanya tahu bahwa gen kanker juga diwariskan. Jika orang tua pernah kanker, kita hanya menduga kemungkinan warisan gen kanker ada pada badan kita. Dan itu baru menduga oleh karena tidak semua anak dari orang tua yang kanker tentu mewarisinya. Ada yang mewarisi, ada pula yang tidak.

Bagi yang memiliki orang tua kanker, perlu lebih waspada terhadap semua jenis bahan carcinogen, dari mana pun asalnya. Faktor carcinogen yang paling kuat banyak berasal dari makanan (diet). Erat korelasi diet dengan munculnya kanker.

4. Diet dan kanker

Menu harian kita ada yang baik, yaitu kelompok menu yang justru melindungi tubuh kita dari ancaman kanker, menu jenis ini yang harus ditingkatkan dalam menu harian, seperti buah, sayur, ikan, serat, minyak ikan laut, vitamin A, C, E, dan D. Sedangkan jenis menu berlemak tinggi, daging-dagingan, dan alkohol justru memperbesar risiko kita terserang kanker.

Kalau diamati, baik yang menunya kecukupan dan berlimpah, maupun yang menunya sederhana sekarang sama-sama memikul risiko terancam kanker. Menu kaya lemak, kaya daging, dan yang serba lezat, sehingga menjadikan tubuh yang gemuk-gemuk, menyimpan risiko kanker.

Begitu juga yang menunya ikan asin, saus tomat murah, berbumbu penyedap berlebihan, atau rumah dengan atap asbes. Diyakini bahwa tubuh yang gemuk menyimpan risiko terkena kanker payudara, prostat, dan usus besar, lebih tinggi dibanding yang tidak gemuk.

Ikan asin, menu harian rakyat kecil mengandung zat nitrosamine, salah satu zat carcinogenic, sebagaimana juga zat pewarna dalam saus tomat, jajanan dan penganan murah, bumbu penyedap asam glutamat (micin) yang dikonsumsi berlebih untuk waktu lama, demikian pula dengan bahan pengawet, pemanis buatan, serta bahan additive lain.

Jenis makanan, penganan, dan bumbu yang murah yang dikonsumsi rakyat kecil justru mengandung bahan carcinogen. Belum carcinogenic lain dalam polusi udara, gelombang elektromagnetik semua peralatan elektronik di rumah maupun kantor, medan listrik bertegangan tinggi, dan radiasi monitor komputer, antena telepon genggam. Terpapar lama oleh faktor-faktor maya tersebut menambah beban tubuh memikul cemaran carcinogenic di lingkungan hidup kesehariannya.

Buat rakyat kecil racun aflatoxin dalam kacang busuk, tembakau, umbi, kecambah, berisiko mencetuskan kanker hati. Orang kecukupan yang cuma makan daging kurang serat, cenderung kanker usus. Nitrat tinggi dalam air minum yang dikonsumsi orang papa menambah risiko kena kanker kandung kemih, termasuk cemaran pupuk, pestisida, herbisida di kalangan petani, dan penduduk desa.

Orang kecukupan memilih ikan asap, daging asap, daging bakar barbeque, juga memikul risiko kanker lebih besar akibat cemaran zat polycyclichydrocarbon yang berasal dari proses pengasapan. Risiko kanker orang papa semakin bertambah akibat sering mengonsumsi minyak goreng jelantah dari jajanan gorengan, dari warung nasi, dan nasi bungkus murah, atau dari tahu murah yang diberi pengawet formalin, zat warna tekstil, pemanis sacharine, atau makanan yang serba asin. Menu asin bukan cuma bikin darah tinggi naik, melainkan pencetus kanker juga, termasuk acar. Kanker usus penduduk Jepang yang doyan acar, lebih tinggi dibanding penduduk yang tidak sering makan acar.

Peranan menu harian dalam mencegah kanker amatlah besar. Sekitar 35 persen kanker di Amerika dapat dicegah dengan menata ulang menu harian. Angka kanker menurun jika diet lebih memilih jenis makanan yang aman, menjauhi jenis menu yang jahat, dan memperbanyak menu yang menyehatkan (gerakan back to nature, salah satunya).

5. Perilaku seks dan kanker

Beberapa virus terbukti menjadi pencetus kanker juga. Wanita yang sering berganti-ganti pasangan seks cenderung kena kanker leher rahim. Dengan berganti-ganti pasangan, risiko tertular virus lebih besar dibanding yang hanya dengan pasangan tunggal. Virus Epstein-Barr, virus papilloma, untuk menyebut virus yang ditularkan lewat hubungan seks.

Selain itu serangan virus-virus jenis lain, termasuk virus AIDS, cenderung memperlemah tubuh. Daya tahan tubuh menurun mempermudah masuknya virus lain, yang akan semakin melemahkan sistem kekebalan tubuh.

6. Kanker dan menurunnya sistem kekebalan tubuh

Kekebalan tubuh menurun merupakan salah satu faktor risiko terserang kanker juga. Dengan bertambahnya usia, kekebalan tubuh cenderung akan terus menurun. Jenis kanker yang banyak menyerang usia lanjut, diterangkan oleh semakin melemahnya kekebalan tubuh.

Kekebalan tubuh pada umumnya menurun jika hidup kurang tertib. Jika irama hidup tidak teratur, pola makan kacau dan gizi tak memadai, dalam bekerja tak punya pola jeda, waktu tidur tak tentu, dan badan tidak cukup bergerak, kesemuanya itu cenderung melemahkan kondisi tubuh.

Jika kondisi tubuh melemah, virus mudah menyerang. Serangan virus sendiri menambah lemah ketahanan tubuh. Pada kondisi demikian, virus-virus sebagai pembawa risiko kanker ikut menyerang.

Sistem kekebalan juga berkorelasi dengan kondisi jiwa. Pikiran positif, jiwa yang kuat, dan iman yang teguh meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penyembuhan dalam doa, misalnya, bekerja dengan cara meningkatkan sistem imun tubuh. Sel-sel kekebalan (lymphocytes, sel-B dan sel-T) tubuh maupun cairan kekebalan (immuno-globulin) meningkat jika kita berpikiran positif, optimistis, dan malah jadi menurun jika kita pesimistis, kehilangan pegangan, tak yakin Tuhan menolong.

Faktor stres ikut menurunkan sistem kekebalan tubuh juga. Maka, stres perlu dikendurkan jika takut terserang kanker. Perlu hidup lebih enjoy, lebih menerima, dan bisa mensyukuri hidup kendati hanya sebagai orang biasa.

7. Cahaya matahari dan kanker.

Buat kita di Indonesia cahaya matahari barang murah yang pada satu sisi menyehatkan sebab membantu pembentukan vitamin D, memperkuat tulang, namun di sisi lain merupakan faktor pencetus kanker kulit. Maka, tidak sehat kebiasaan berjemur untuk tujuan menambah kelam warna kulit seperti kebiasaan orang bule, jika dilakukan setelah sinar ultramerah mulai meninggi.

Yang kita butuhkan dari matahari sinar ultravioletnya, yang bisa kita manfaatkan sebelum pukul 10-an pagi. Lewat jam itu, berisiko mencetuskan kanker kulit, kanker yang banyak menyerang kulit wajah.

8. Kanker dan hormon.

Sudah lama diduga hormon seks memegang peranan penting dalam kemunculan kanker kandungan pada wanita. Jenis tumor rahim tertentu berkaitan erat dengan hadirnya hormon estrogenik. Setelah menopause, ketika hormon sudah surut, tumor akan mereda sendirinya. Bukti bahwa hormon ikut andil dalam tumbuhnya sel abnormal organ reproduksi.

Dalam hal sulih hormon (Hormon Replacement Therapy) masih tetap kontroversi. Selain ada yang menentang, ada pula yang menganjurkan karena dinilai masih aman. Namun, secara akal sehat, jika sel organ reproduksi kerjanya dipengaruhi oleh hormon seks, pemberian hormon dari luar tubuh (yang belum tentu pas takarannya dengan kebutuhan sel), bisa saja berpengaruh buruk, yaitu merangsang sel yang dipengaruhinya untuk berubah tabiat. Ada pihak yang menganjurkan seberapa bisa, sulih hormon pun dipertimbangkan tidak jika masih ada pilihan lain.

Pemberian hormon testosteron pada pria, misalnya tidak diperbolehkan jika ada gangguan prostat. Maka, pemakaian hormon lelaki sebagai obat kuat pun hendaknya diwaspadai betul. Dan sekarang hormon laki-laki juga dimanfaatkan untuk tujuan peremajaan sel (rejuvenalisasi), dan banyak suplemen yang diam-diam memasukkan hormon untuk tujuan dan khasiat yang tidak selalu jelas, dan tidak aman secara medis.

9. Apa semua kanker dapat disembuhkan?

Umumnya semua kanker masih bisa disembuhkan asal diobati selagi masih dini. Namun, sering kali kanker baru diketahui, atau baru disadari setelah memasuki stadium lanjut, pada waktu gejalanya sudah nyata muncul. Itu sebab, perlu senantiasa check up teratur, terutama bagi yang menyimpan faktor risiko mewarisi keturunan kanker, mereka yang sudah berusia lanjut, dan sering terpapar faktor carcinogic untuk waktu lama, seperti perokok, terpapar radiasi (bekerja di kamar rontgen, petugas di lingkungan nuklir), dan siapa saja yang menu lemaknya berlimpah, dan kegemukan.

Untuk kanker payudara dan leher rahim dapat memonitor dengan melakukan pemeriksaan rutin berkala setahun sekali. Semakin dini awal suatu kanker diketahui, semakin besar harapan untuk sembuh. Jika kanker sudah lanjut, selain tidak bisa disembuhkan, sel kanker sudah menyebar ke mana-mana organ tubuh lain, memperberat penderitaan, dan komplikasi.

10. Ekstra vitamin dan antioksidan

Kita tahu radikal bebas (free radicals) salah satu faktor yang mendukung terjadinya kanker. Radikal bebas ada di mana-mana dalam hidup keseharian kita, termasuk dalam menu, polusi udara, air minum, sehingga tidak mudah kita berkelit dari semua itu.

Yang bisa kita lakukan meningkatkan faktor peredam radikal bebas atau zat antioksidan (antioxidant). Kita tahu vitamin A (carotene), vitamin C, dan vitamin E, bersifat antioksidan juga. Semua itu ada dalam makanan yang berasal dari alam.

Jika kita bisa mengandalkan kecukupan antioksidan dari alam, tak perlu ekstra tambahan vitamin yang bersifat antioksidan itu. Wortel, buah dan sayur mayur segar, biji anggur, jeruk, dan semua jenis umbi-umbian, biji-bijian, kacang-kacangan, serta jenis lalapan mentah, kaya akan vitamin, mineral, chlorophil, dan antioksidan.

Jika menu kaya antioksidan kita ragu bisa terpenuhi dari menu harian, kita menambahkannya dari esktra vitamin, dan sumber antioksidan lainnya, yang banyak dijual sebagai suplemen, asal jelas formula, dan disahkan pemakaiannya oleh badan pengawasan obat internasional, setidaknya diakui lokal oleh Departemen Kesehatan.

 

 

loading...

Previous post:

Next post: